72 hari Bertahan Hidup di Kebekuan Andes

Banyak dari kita, terutama yang sering berkegiatan di alam alam bebas, tentu telah mengetahui salah satu kisah survival paling bersejarah (selain yang berkaitan dengan perang) dalam peradaban manusia modern; jatuhnya pesawat Fairchild F-227 di Pegunungan Andes pada Oktober 1972. Kita mungkin mengetahuinya  dari pendidikan dasar atau lanjutan di masing-masing organisasi. Atau juga dari informasi media dari luar organisasi kita. 

Ratusan artikel memang telah ditulis berkaitan dengan peristiwa tersebut. Belasan buku juga telah diterbitkan dalam beragam bahasa untuk menceritakan pengalaman yang dialami para penumpang. Salah satu buku paling laris yang ditulis oleh Piers Paul Read malah telah difilmkan pada 1993 dengan judul yang sama, “Alive”.  Film ini bahkan mendapatkan penghargaan Cinematographer of the Year pada tahun yang sama oleh Australian Cinematographers Society, dan sempat masuk nominasi pada Emmy Awards untuk kategori Outstanding Individual Achievement - Informational Programming serta pada MTV Movie Awards untuk kategori Best Action Sequence. Saya, sih, belum sempat nonton filmnya. Tapi saya yakin pesan yang ingin disampaikan Frank Marshall, sang sutradara, tidak jauh-jauh dari pesan yang disisipkan Paul Read dalam bukunya.

Kisah Andes ini bermula pada hari kamis tanggal 12 Oktober 1972, ketika sebuah pesawat jenis Foker “Fairchild” F-277, berpenumpang 45 orang, meninggalkan Bandara Carrasco, Uruguay menuju Santiago, Chili. 16 penumpang diantaranya adalah pemain Rugby amatir, sebagian lagi adalah anggota organisasi Kristen, sisanya merupakan teman dan keluarga mereka.

Setelah transit dan take-off kembali dari Mendoza, foker ini kemudian jatuh di pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober. Serta merta, 12 orang langsung tewas dan 3 orang lain menyusul pada malam harinya. Keesokan harinya, co-pilot, Dante Lagurara dan seorang perempuan bernama Mariani juga meninggal dunia. Yang lain, kebanyakan terluka parah.

Harapan pertolongan pertama nanti didapatkan pada hari ketiga (tanggal 15 Oktober) sebelum tengah hari. Tiga buah pesawat melintas dalam jangkauan mata mereka di kejauhan. Setelah itu sebuah pesawat melintas sangat dekat dari rongsokan Foker. Hal ini kemudian menimbulkan optimisme mereka pada pertolongan dari pihak luar. Namun sampai sore hari, bantuan tersebut tak pernah datang.

Yang terjadi pada hari-hari selanjutnya adalah kesadaran bahwa mereka adalah sebuah tim, munculnya kreatifitas alamiah dan keinginan saling membantu untuk bertahan hidup dalam kebekuan Andes. Canessa mulai membuat hammocks (tempat tidur gantung)  untuk Rafael Echevarren dan Arturo Nogueira yang terluka parah. Fito Strauch menggunakan bantalan jok pesawat pada kakinya sehingga tidak tenggelam di salju. Carlos Páez, Turcatti, Canessa and Fito Strauch juga sempat berusaha mendaki puncak di sekitar untuk melihat apa yang terdapat di baliknya meski harus kembali dengan tangan kosong dan keletihan. Ironisnya, mereka kembali kehilangan anggota tim pada tanggal 21 Oktober, ketika Susana Parrado, meninggal dalam pelukan saudara laki-lakinya, Fernando Parrado, akibat luka berat yang dialaminya.

Setelah 9 hari terisolasi, persediaan makanan pun habis. Mereka berembuk dan mengambil keputusan “gila” yang belakangan menjadi kontroversi; memakan jenazah teman-teman mereka sendiri untuk bertahan hidup. Canessa – mahasiswa kedokteran tahun kedua yang berusia 25 tahun  - mengambil inisiatif, meski sebagian dari mereka menolak melakukannya.

Pada hari ke-10, melalui radio yang ditemukan di dalam pesawat, mereka mengetahui bahwa pencarian oleh tim rescue dihentikan karena tak membuahkan hasil. Kini upaya penyelamatan betul-betul berada di tangan mereka sendiri.  Turcatti, Maspons and Zerbino lalu mendaki puncak mengikuti jejak pesawat pada saat jatuh untuk mencari pandangan yang lebih terbuka. Karena kelelahan, mereka memutuskan untuk menginap di ketinggian dan kembali keesokan harinya. Mereka sempat menemukan serpihan sayap pesawat, satu jenazah rekan mereka, tiga jenazah anggota “Old Christian” dan dua jenazah kru pesawat.

Tanggal 29 Oktober, mereka kembali kehilangan anggota tim. Kali ini longsoran salju tiba-tiba saja menghantam bangkai pesawat, menerjang masuk ke dalam Foker tersebut dan menewaskan mereka yang tertidur di bagian bawah. Delapan orang langsung menemui ajal termasuk Daniel Mespons dan Marcelo Perez, sang kapten tim rugby. Sekarang mereka tersisa 19 orang.

Kematian bukan hal luar biasa lagi bagi mereka. Kelaparan dan penderitaan lain selalu menghiasi hari demi hari. Tapi keinginan untuk bertahan hidup tak hilang dalam hati masing-masing. Upaya-upaya mencapai horizon yang “menjanjikan” terus saja mereka lakukan. Mereka bahkan masih sempat merayakan ulang tahun Numa Turcatti, Carlos Paez dan Pancho Delgado. Secara bergantian mereka mencari titik ketinggian yang memungkinkan pandangan ke arah peradaban di bawah pegunungan dan juga upaya penemuan ekor pesawat tempat bagasi mereka tersimpan. François, Inciarte, Turcatti, Algorta, Canessa, Parrado, Páez, Harley dan Vizintín bahu membahu menyusuri setiap bagian pegunungan selama beberapa hari ke depan.

Upaya mereka cukup membuahkan hasil. Pada hari ke-23, mereka menemukan pintu belakang pesawat, stop kontak alumunium dan bubuk kopi. Disusul penemuan ekor pesawat serta koper-koper mereka dimana terdapat makanan, pakaian dan sekardus rokok pada tanggal 17 Nopember. Mereka juga menemukan baterai dan tempat bermalam yang lebih baik di ekor pesawat tersebut. Sayangnya, dalam kondisi optimis seperti itu Arturo Nogueira meninggal dunia pada 15 Nopemeber akibat peradangan pada lukanya. Rafael Echevarren menyusul tiga hari kemudian.

Komunikasi via radio menjadi upaya prioritas mereka selain perintisan jalan ke bawah pegunungan. Butuh waktu seminggu untuk memindahkan radio dari tubuh utama Fairchild ke ekor pesawat dimana baterai yang berat itu berada. Vizintín, Canessa, Parrado and Harley harus bolak-balik ke dua tempat tersebut. Jaraknya satu setengah jam trekking dan semua upaya itu harus mereka lakukan dalam kondisi yang membeku, berangin kencang serta ancaman Avalanche. Sayangnya, sampai akhir Nopember mereka tetap tidak berhasil membuat radio berfungsi maksimal. Hanya satu hal menggembirakan yang dapat mereka hasilkan dari radio tersebut. Bahwa pencarian terhadap mereka kembali dilakukan. Kali ini oleh unit C-49 Angkatan Udara Uruguay.

Dua hari setelah Parrado  -seorang mahasiswa Teknik Mesin-  berulang tahun, Numa Turcatti - teman dekat Pancho Delgado - meninggal dunia pada tanggal 11 Desember. Dengan menggunakan koper bekas, mereka lalu membuat tanda silang besar di atas salju dengan harapan dapat dilihat dari udara oleh tim pencari. Dalam tekanan mental dan fisik yang demikian hebat, di bangkai foker, Zerbino dan Fito harus mencari jenazah akibat kehabisan makanan. Sementara  Canessa, Parrado and Vizintín memutuskan merintis jalan ke bawah pegunungan.

Inilah awal keberhasilan haru-biru anak-anak muda yang berjuang menghindari keputusasaan dan kematian. Perdebatan dalam pengambilan keputusan yang mengarah ke situasi kontra produktif dan  kerjasama tim yang sangat produktif, bercampu menjadi satu dan senantiasa terukir dalam jejak kaki mereka menuju ke lembah di kawasan Chili.

Memasuki hari ke-61, persediaan makanan mereka mulai menipis. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diputuskan Canessa dan Parrado melanjutkan perjalanan dan Vizintin harus kembali ke bangkai foker. Sementara di tempat lain, Páez dan Algorta berkeliling mencari tubuh-tubuh teman mereka yang telah meninggal, melindunginya dengan salju agar tidak membusuk oleh sinar matahari. Jenazah memang menjadi barang berharga bagi mereka.

Harapan di bangkai foker kembali menyeruak setelah mereka mendengar lewat radio bahwa tanda silang yang mereka buat dari koper terlihat oleh tim pencari. Namun harapan tersebut kembali terkubur setelah dua hari kemudian unit C-47 Angkatan Udara Uruguay kembali mengkonfirmasi bahwa yang terlihat adalah tanda silang yang dibuat oleh tim metereologi Argentina.

Di tempat lain, Canessa dan Parrado telah mencapai kaki gunung dan menemukan tumbuhan hijau pertama mereka sejak jatuh. Kegirangan serta merta meliputi perasaan mereka berdua. Canessa mengambil beberapa diantaranya dan memakannya. Apa yang mereka lihat selanjutnya adalah hal yang sangat membahagiakan. Dimulai dengan batas salju yang telah berakhir dan berganti tumbuhan hijau, sungai-sungai kecil, binatang liar sampai tanda-tanda peradaban pertama yang mereka temui; sekumpulan ternak sapi di kejauhan, kaleng bekas sup, gerobak lembu dan sepatu kuda. Mereka kemudian tertidur nyenyak bersama bara optimisme esok hari.

Kenyataan itu terwujud pada tanggal 21 Desember dimana untuk pertama kalinya, Canessa dan Parrado akhirnya berjumpa dengan orang “luar” setelah sehari sebelumnya mereka berdua cuma bisa mendengar suara-suara mereka di kejauhan. Orang tersebut, Sergio Catalán, langsung menolong dan memberikan roti serta makanan kepada mereka berdua.

Tak berapa lama kemudian, dunia pun geger. Penumpang pesawat yang hilang selama dua bulan lebih, ternyata sebagian masih hidup! Jurnalis berdatangan dari segala penjuru dunia. Desa kecil yang tadinya damai, Los Maitenes, kini berubah hiruk pikuk oleh perhatian publik. Helikopter penolong bolak-balik dan meraung-raung di atasnya.

Keesokan harinya, 6 orang penumpang yang masih berada di bangkai foker berhasil diselamatkan oleh heli penolong, meski dalam cuaca yang kurang bersahabat. Sisanya terpaksa harus tetap tinggal dengan ditemani beberapa tim medis dan pendaki gunung berpengalaman. Baru keesokan harinya semua orang di bangkai pesawat tersebut diangkut dan diterbangkan ke Los Maitenes. Keharuan, kesedihan, kebahagiaan, kebanggaan dan beragam apresiasi terhadap perjuangan mereka bercampur menjadi satu di desa kecil tesebut - menutupi tindakan kanibalisme yang terpaksa. Mereka memang telah  menjelajahi batas-batas kemampuan manusia.
Para Survivor dan Keluarga
(Photo taken from LIFE magazine)
Bagi keluarga mereka, hal ini tentu menjadi sebuah hadiah Natal yang pasti tak terlupakan. Bagi para penumpang Fairchild F-277, ini adalah perpindahan kondisi ke wilayah survival yang sebenarnya, yaitu kehidupan itu sendiri. Sebab, tanggal 26 Desember,  “El mercurio” – sebuah koran di Santiago – mengangkat topik satu halaman depan full, tentang tindakan kanibalisme para penumpang Fairchild F-277 tersebut. Sebuah gong polemik yang besar tentu mulai bergema. Sebuah hal yang bisa saja lebih menyedihkan bagi mereka dibandingkan sekedar menyaksikan 29 kematian di kebekuan Andes selama 72 hari.

Permitted to Re-Post by its Source

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar