Legenda Beauty And The Beast

Di keindahan pegunungan Himalaya dan sekitarnya, konon terdapat makhluk misterius yang hidup di antara salju atau pun  hutan-hutan.  Makhluk mirip manusia ini diyakini telah berada disana sejak dahulu kala. Kebanyakan laporan kontak manusia dengan makhluk misterius tersebut  berdasarkan penampakan, jejak kaki, kulit kepala atau pun rambut. Sedikitnya terdapat sekitar 25 laporan catatan kontak sejak 1832 sampai setidaknya tahun 1992. Itu belum termasuk pengakuan kebanyakan  penduduk yang tinggal di sekitar Himalaya.

Yeti, nama makhluk itu, secara umum dikhabarkan lebih mirip primata namun berjalan tegak seperti layaknya manusia normal. Dengan tinggi sekitar 5-8 kaki dan tubuh ditumbuhi bulu-bulu yang panjang, Yeti seolah-olah menjadi momok bagi penduduk sekitar. Beragam nama dengan konotasi buas kemudian diberikan kepadanya, seperti “Bonmanche” yang dapat diartikan sebagai manusia liar  atau “Kanchanjunga Rachyyas” yang berarti  Iblis Kanchanjunga. Mereka yakin Yeti bisa membunuh manusia hanya dengan sekali pukul! 

Nama Yeti sendiri artinya masih simpang siur. Menurut Jenny Randle dalam bukunya yang berjudul “Strange Unexplained Mysteries of the 20th Century” kata itu berasal dari bahasa sherpa Yeh-Teh yang berarti ‘Makhluk Batu’. Namun Menurut Sir Edmund Hillary pada artikelnya di buku Ensiklopedia Dunia tahun 1961, Yeti diyakini mempunyai makna asli sebagai ‘Makhluk Pemakan Segalanya’. Orang Eropa sendiri menggelarinya sebagai 'Abominable Snowman’ atau ‘Si Manusia Salju yang Buruk Rupa’. Dan menurut Frank Edwards dalam “Stranger Than Science” gelar tersebut salah satunya diambil dari kata ‘Yeti’ itu sendiri atau dari nama Tibet untuk makhluk tersebut yaitu Metoh Kangmi. Namun Edwards juga merasa bahwa kata tersebut adalah penerjemahan yang salah dari kata Mi-Te (Manusia Beruang). Sementra Jenny Randle berpendapat bahwa kata tersebut adalah penerjemahan yang salah dari bahasa Tibet yang dapat diartikan sebagai ‘Makhluk Mirip Manusia Tapi Bukan Manusia’. Yeti juga sering disebut ‘Alma’ oleh orang-orang di dataran China. 

Makhluk penyendiri ini diuraikan kepada dunia pada 1832 oleh seorang Inggris yang tinggal di Nepal bernama B. H. Hodson. Ia mendapat ceritera bahwa pemburu pribumi suatu waktu dikejutkan oleh sesosok ‘makhluk liar’ yang berjalan tegak, dipenuhi bulu-bulu hitam yang panjang namun tak memiliki ekor. Uraian ini lantas tercatat sebagai larporan pertama dari orang asing tentang keberadaan Yeti. Disusul kemudian laporan penemuan jejak kaki oleh Mayor Waddell pada 1889.

Beberapa laporan setelah itu yang mengindikasikan kemiripan deskripsi Yeti, juga diuraikan pada tahun 1913. Para pemburu China dilaporkan telah melukai dan menangkap manusia berbulu yang oleh masyarakat biasa dijuluki Manusia Salju, di Patang, propinsi Sinkiang. “Manusia Salju dari Patang” itu dijelaskan memiliki wajah seperti monyet, berbulu kuning keperakan dengan panjang beberapa Inchi, tangan dan kaki mirip milik manusia dan bersiul keras serta sangat kuat tenaganya. Makhluk  tersebut sempat dikurung selama kurang lebih 5 bulan sebelum akhirnya mati. Meski demikian, laporan ini tidak mempunyai cukup bukti untuk dikategorikan sebagai laporan Ilmiah. 

Pemaparan mengenai Yeti di era yang lebih baru membuat perdebatan mulai terjadi di kalangan ilmuwan. Semakin banyak kontak yang dilaporkan dengan beragam variasi oleh dunia barat. Apalagi setelah kawasan Himalaya mulai dieksplorasi oleh para penjelajah atau pendaki gunung. Anggota tim Expedisi ke Everest di awal tahun 20-an, misalnya, menyatakan telah melihat Yeti di kejauhan dan menemukan jejaknya. 

Laporan kontak langsung lain, seperti di Sinkiang, juga tercatat pada 1941, ketika seorang Letkol Rusia, Vargen Karapetyan yang sedang berperang melawan Jerman di Caucasus dekat  Buinakst, diminta oleh anak buahnya untuk melihat makhluk aneh yang mereka tangkap. Makhluk itu ditempatkan di gudang karena pada tempat yang panas ia akan mengeluarkan keringat dan bau tidak sedap. Dengan bulu yang panjang dan dipenuhi kutu, makhluk itu sama sekali tidak bisa berbicara, nampak kuyu dan ketakutan. Ia tidak berusaha melawan ketika Karapetyan mencoba menarik bulu-bulunya. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Letkol tersebut lantas meninggalkannya dan kemudian mendapat laporan beberapa hari kemudian bahwa makhluk itu telah melarikan diri. Belakangan, Kementrian Dalam Negeri di Daghestan mengkonfirmasi bahwa makhluk tersebut telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer karena dianggap desersi (???). Sekali lagi, laporan ini tidak punya cukup bukti dan tidak dapat dikonfirmasikan secara fisik.

Foto by Eric Shipton

Foto pertama jejak kaki Yeti nanti dipaparkan ke dunia pada tahun 1951 oleh sebuah ekspedisi  Pendakian Everest Inggris. Eric Shipton dan Michael Ward berhasil mengambil gambar jejak kaki tersebut pada ketinggian 19.000 kaki dan berukuran panjang 12 inci dengan lebar 8 inci. Dalam surat kepada seorang temannya, Tom Bourdillon, salah satu anggota tim, berkata; “Apa itu, saya tidak tahu, tetapi saya tahu jelas bahwa tidak ada hewan yang hidup di Himalaya yang berkaki seperti itu, dan itu sangat besar.” Sebelumnya, Shipton juga telah melaporkan penemuan rangkaian jejak kaki Yeti pada 1936.

Ilmuwan Inggris David Attenborough yakin yeti memang ada. Kesimpulan itu diambil dengan melihat jejak kaki yang bentuknya beda dengan binatang lain. "Saya yakin adanya manusia salju itu, jejak yang ditemukan di ketinggian 19.000 sangat meyakinkan," kata pakar kehidupan binatang liar itu.

Foto Shipton membuat dunia semakin penasaran dengan keberadaan Yeti. Pada 1954 sebuah ekspedisi  yang bertujuan menyelidiki Yeti diselenggarakan. Ekspedisi yang disponsori oleh London Daily Mail ini berlangsung selama 15 minggu dan kemudian hanya menemukan jejak kaki serta  sesuatu yang diduga kotoran Yeti. Setelah dianalisa, kotoran tersebut diyakini mengandung bahan dari hewan dan tumbuhan.

Namun menurut "The Encylopedia of Unsolved Mysteries", ekspedisi tersebut bukan menemukan jejak kaki atau kotoran Yeti, melainkan kulit kepalanya.  Sayangnya, Prof. Frederick Woods Jones, pakar komparasi anatomi tidak bisa menyimpulkan apakah itu kulit yeti. Warna abu-abu gelap dipastikan bukan berasal dari beruang atau anthropoid (kera mirip manusia). Para peneliti juga kemudian yakin ada dua tipe yeti, Dzu-teh yang berukuran besar setinggi 8 kaki dan Nich-teh yang berukuran 6 kaki.

Pada akhir tahun 2007, sekelompok orang, bahkan menyatakan telah menemukan bukti baru mengenai keberadaan Yeti di Himalaya. Para penjelajah dari serial "Destination Truth", mengatakan mereka menemukan tapak-tapak kaki Yeti di daerah yang jauhnya sekitar 250 kilometer arah barat laut dari ibu kota Nepal, Kathmandu. "Kami membawa tapak-tapak itu dan kami semua merasa tidak bisa menjelaskan apa sesungguhnya yang kami lihat," kata Gates sambil memamerkan cetakan jejak kaki Yeti itu. Salah satu tapak yang diperlihatkan Gates terdiri dari satu kaki utuh yang besarnya hampir dua kali ukuran tapak kaki manusia. Mereka juga mengatakan bahwa mahluk tersebut tingginya bisa mencapai 2,4 meter.

Namun sebagian ilmuwan tidak yakin dengan keberadaan Yeti. Para ilmuwan inggris yang meneliti  dengan uji DNA mengungkapkan bahwa DNA rambut yang disebut-sebut sebagai milik Yeti ternyata tidak menunjukkan sesuatu yang berasal dari makhluk hidup. Prof. Bryan Sykes, seorang ahli ilmu genetika manusia dari Institute of Molecular Medicine, Oxford mengungkapkan, “Dari hasil penelitian kami membuktikan ini bukan milik manusia, bukan pula milik beruang atau makhluk hidup apapun”.

Meskipun pesimisme tentang Yeti juga terus mencuat, banyak orang yang masih percaya terhadap keberadaan makhluk ini. Teori tentang mereka mencakup keyakinan bahwa Yeti dan Legenda Manusia Liar berbulu lainnya ( Bigfoot atau Sasquatch di Amerika Serikat dan Yowie di Australia) adalah kelanjutan hidup dari bentuk manusia yang lebih primitif, Neanderthal atau Gigantopithecus.

Gigantopithecus adalah nenek moyang dari kera raksasa, pertama kali diidentifikasi dalam catatan fosil oleh seorang paleontologist Belanda, Ralph von Koenigswald (atau von Koenigwald) ketika ia menemukan gigi makhluk tersebut di sebuah toko obat Cina tahun 1934 yang diyakininya milik kera raksasa tinggi yang hidup sekitar setengah juta tahun yang lalu.


Pada tahun 1954, ahli zoologi Belanda Bernard Huevelmans, mengemukakan teori pada beberapa artikel yang diterbitkan di Paris  bahwa Gigantopithecus tidak mampu bersaing dengan manusia modern secara anatomis, pergi ke daerah-daerah pegunungan terpencil untuk bertahan hidup dan itu adalah keturunan modern dari makhluk kera besar yang sekarang disebut Yeti (Ini mirip dengan analisa Seiling Go - seorang mountaineer Indonesia - yang sempat menjelajahi kawasan Himalaya dan memaparkannya dalam buku "Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya" pada halaman 375-377). Sayangnya untuk teori ini, Gigantopithecus tidak sesuai dengan tinggi rata-rata Yeti sebagaimana banyak dilaporkan. Yeti rata-rata lima kaki, sedangkan secara teoritis Gigantopithecus rata-rata berukuran delapan sampai sepuluh kaki (jika berdiri tegak).

Nenek moyang kera besar lain yang dinilai masih bisa bertahan hidup sampai sekarang adalah Neanderthal, yang secara fisik lebih mirip dengan deskripsi  Yeti dibandingkan Gigantopithecus. Ketinggian rata-ratanya sekitar lima kaki dan diyakini memiliki bulu seperti manusia modern. Sayangnya fosil mereka hanya ditemukan di Eropa Barat, bukan di Asia.

Mungkin yang paling memberatkan dari kedua teori ini adalah bahwa tidak adanya bukti prinsip yang ditemukan dalam catatan fosil akhir-akhir ini. Fosil Neanderthal yang pernah ditemukan, paling muda berusia sekitar 40,000 tahun SM. Dan Gigantopithecus telah hilang sekitar 1,5 juta tahun SM. Jika salah satu ada yang bertahan, beberapa bukti seharusnya dapat ditemukan sekarang. 

Yeti memang belum dapat dibuktikan keberadaan atau ketidakberadaannya. Namun bagaimanapun,  kontak dengan ‘Manusia Salju Buruk Rupa’ itu masih terus berlangsung. Dan meski dianggap liar atau buas (beast), Yeti hanya dilaporkan pernah menyerang manusia sedikitnya 2 kali, yaitu pada 1948 dan 1957.  Namun, bila teori Huevelmans tadi benar adanya, kita manusia sepertinya lebih tepat menyandang gelar ‘buas’ tersebut dibandingkan diberikan kepada Yeti. ‘The Beast’ itu sendiri sekarang masih tetap menjadi misteri besar diantara hutan dan salju ‘The Beauty' Himalaya sampai hari ini. 

Permitted to Re-Post by its Source

Tidak ada komentar:

Posting Komentar