EIGHT THOUSANDERS; 14, 21 atau 22 buah?

Seperti yang kita ketahui selama ini, gunung dengan ketinggian di atas 8000 meter (eight-thousanders) dari permukaan laut berjumlah 14 buah. Semuanya terletak di kawasan pegunungan Himalaya dan Karakoram, terbentang pada 5 negara di Asia dan semuanya telah disentuh oleh manusia. Gunung-gunung tersebut menjadi “sasaran selanjutnya” setelah Zaman Keemasan Pendakian Gunung di Alpen (1854-1865) berakhir. Berdasarkan urutan tertinggi, puncak-puncak tersebut adalah: Everest (8848), K2 (8611), Kanchenjunga (8586), Lhotse (8516), Makalu (8485), Cho Oyu (8201), Dhaulagiri I (8167), Manaslu (8163), Nanga Parbat (8126), Annapurna I (8091), Hidden Peak (8080), Broad Peak (8051), Gasherbrum II (8034) dan Shishapangma (8027). 

Namun tidak banyak yang mengetahui kalau ternyata ada semacam perdebatan mengenai jumlah gunung berketinggian di atas 8000 meter. Pangkal masalahnya berada pada pengertian seputar terminologi puncak (Summit), puncak utama (Main Summit) atau titik tertinggi (Highest Point). Hal ini dapat langsung disimak pada apa yang diucapkan oleh  Krzysztof Wielicki, manusia ke-5 yang telah berhasil menuntaskan “14 eight-thousanders” tersebut:
“Bila kita setuju bahwa puncak utama dari 14 eight-thosanders berarti titik tertingginya, maka itu selalu berarti puncak utamanya.”

Tanggapan yang lebih simpel datang dari pendaki asal Spanyol, Juanito Oiarzabal. Manusia ke-6 penuntas “14 eight-thousanders” dan orang ke-3 yang melakukan semua itu tanpa bantuan tabung oksigen ini berujar lugas: “Puncak adalah puncak, dan secara khusus dapat disepakati sebagai titik tertinggi.”

Alumni ke-4 dari “14 eight-thousanders”, Carlos Carsolio, nampaknya memiliki pemikiran yang lebih netral dalam hal ini. Dengan diplomatis, pendaki asal Mexico itu berujar: “Berkaitan dengan menuntaskan 14 gunung di atas 8000 meter, orang akan berbicara mengenai pencapaian puncak utama dari masing-masing gunung tersebut. Pegunungan itu mempunyai 21 puncak bebas yang berketinggian di atas 8000 meter dan sebuah “antesummits” (puncak tengah Shishapangma) yang dapat dipertimbangkan, sehingga bila dijumlahkan terdapat 22 puncak. Bahwa untuk dapat menuntaskan ke-14-nya, orang harus dapat mencapai titik tertinggi dari masing-masing gunung tersebut. Tantangan menarik untuk generasi yang akan datang adalah menyelesaikan 21 titik tersebut. Salah satunya belum pernah disentuh manusia, Puncak Tengah Lhotse.” 
Kawasan Himalaya
Komentar Erhard Loretan (Swiss) lain lagi. Manusia ke-3 tamatan “14 eight-thousanders” itu sedikit sinis terhadap pihak luar dan lebih menyoroti unsur nurani dalam adu argumen yang terjadi. “’Perlombaan’ ini sedikit keluar dari sasarannya. Saya percaya bahwa ini lebih merupakan perlombaan “media” dibanding perlombaan antara para pendaki. Mungkin saja saya salah. Tapi jika ingin bermain, menurut pendapat saya, pendaki harus mencapai titik tertinggi dan pastinya tanpa bantuan tabung oksigen. Sebenarnya, jika kita memiliki sedikit etika, hati kita akan memberitahukan apakah pendakian kita dilakukan secara jujur atau tidak. Secara pribadi, saya harus dua kali pergi ke Shishapangma, karena waktu pertama ke sana, rute kami menuju puncak utama sangatlah berbahaya.” 

Yang ditunggu-tunggu tentu komentar salah satu legenda hidup dunia pendakian gunung, Reinhold Messner. Dialah orang pertama yang berhasil menyelesaikan “14 eight-thousanders” pada 17 Oktober 1986 di Lhotse setelah memulainya pada 1970 di Nanga Parbat. Dia juga sekaligus merupakan orang pertama yang melakukan semua itu tanpa bantuan tabung oksigen sama sekali! “Piala” pertama yang didapatkannya di kemah induk Lhotse ad
alah secangkir kopi panas persembahan rekan-rekannya atas keberhasilan bersejarah itu. 

Untuk urusan jumlah eight-thousanders, Messner nampak berusaha menykapinya dengan bijak namun tetap lugas. “Semua eight-thousanders memiliki satu puncak, tidak ada yang lain, yaitu puncak utama. Menurut pengalaman pribadinya, seseorang memang harus memilih sendiri di mana mereka seharusnya berada. Tapi bagi saya selalu, yang terpenting bukanlah tempat dimana seseorang harus pergi, melainkan pengalaman hidup yang diperoleh dari situ.”

Bila pada bagian akhir saya mengutip kata-kata Messner, bukan berarti saya bermaksud menuntun anda memilih salah satu angka yang tercantum pada judul tulisan ini. Anda bisa menentukannya sendiri berdasarkan pendapat para pendaki kelas dunia di atas atau berdasarkan pemikiran sendiri.  Celah positifnya adalah mungkin kita bisa mencontoh para pendaki kawakan tersebut dalam berdiplomasi dan menyikapi perdebatan atau perbedaan. Kalimat mereka tidak sekonyong-konyong saja dikeluarkan, melainkan berdasarkan kajian pemikiran dan pengalaman yang mendalam.  Sebab selalu saja ada pelajaran dari setiap pendakian bila kita sempat menyadarinya. Bukan sekedar euforia dangkal sesaat yang langsung sirna saat meninggalkan Base Camp untuk kembali ke rumah.

“I’m not proud of this ‘collection’, which I do not regard as such. I’m not proud of success, though I had sought it for a long time. But I’m  proud  to have survived.”
(Reinhold Messner, kata pengantar buku “All 14 Eight Thousanders”)

Permitted to Re-Post by its Source


Tidak ada komentar:

Posting Komentar