BONINGTON'S MANAGEMENT STYLE: Ilmu Manajemen ala Pendaki Gunung

Sebagai sebuah alternatif hobi atau profesi, mendaki gunung memang tidak sepopuler bermusik, sepak bola atau bahkan memancing. Di negara kita, kegiatan ini - seperti juga kegiatan ekstrim lainnya - malah sering dicap sebagai kegiatan tidak berguna alias sia-sia. Sebagian besar orang tua akan langsung memperlihatkan sikap resisten bila mengetahui anak remajanya mulai ikut-ikutan berniat membeli carrier untuk pergi ke gunung. Pola pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga tidak sepenuhnya "memberi jalan" - untuk tidak dikatakan ogah-ogahan - bagi hobi yang sering diklaim potensil mengirim nyawa ke alam baka dengan lebih cepat ini. 

Sir Chris Bonington
Fenomena ini terjadi tentu tidak dengan serta merta. Banyak faktor yang secara simultan telah membentuk image buruk ini, baik akibat keawaman masyarkat maupun  - harus diakui - akibat dari penggiat kegiatan pendakian gunung itu sendiri. Dan telah banyak "debat" yang akhirnya hanya menjadi "kusir" dalam hal ini. Saya sangat berharap kita tidak lagi menambah daftar panjang yang kontra produktif itu kali ini.

Bagaimana pun, mendaki gunung sarat dengan dinamika manfaat yang sering tidak disadari bahkan oleh pelakunya sendiri. Antusiasme pencapaian puncak, prestasi spektakuler atau euforia keberhasilan sebuah ekspedisi seringkali sangat sukses menyembunyikan manfaat besar bagi person atau tim yang melakukannya. Presentase atau evaluasi pasca kegiatan pun kebanyakan hanya membahas masalah teknis saja. Masih sedikit  pelaku kegiatan ini di Indonesia yang berupaya menyelidiki dan kemudian menyuarakan nilai positif dari pendakian gunung. Padahal upaya itu tentu sangat berguna untuk mengikis pemahaman negatif masyarakat luas terhadap kegiatan pendakian gunung.    

Meski demikian, bukan berarti tidak ada pelajaran yang bisa kita "tonton" dalam kaitan dengan manfaat dari pendakian gunung. Karena di belahan bumi lain, ada seorang pendaki gunung yang telah melakukannya selama bertahun-tahun. Ia adalah Sir Chris Bonington, seorang pendaki legendaris asal Inggris. 

Dilahirkan pada 6 August 1934 in Hampstead, London, Bonington awalnya adalah seorang perwira lulusan Royal Military Academy Sandhurst dan bertugas di Royal Tank Regiment pada 1956. Ia ditugaskan di Jerman Utara selama tiga tahun dan kemudian menjadi instruktur mountaineering di Army Outward Bound School selama dua tahun. Disini ia sukses mendaki Aiguille du Dru via pilar Barat Daya dan tercatat sebagai orang Inggris pertama yang melewati rute tersebut pada 1958.  Tiga tahun kemudian, ia bersama Don Whillans, Ian Clough dan Jan Dlugosz melakukan pendakian pertama Pilar Tengah Freney di sisi selatan Mont Blanc. Pada masa itu Pilar tersebut merupakan salah satu rute tersulit yang ada di pegunungan Alpen. Setahun kemudian Ia juga mendaki Eiger via sisi utara (North Face) dan tercatat sebagai pendakian pertama yang dilakukan oleh orang Inggris pada sisi itu.

Kecintaannya pada gunung telah membuatnya "membelot" dari ketentaraan pada 1961 dan bergabung dengan perusahaan Unilever pada job Management Trainee untuk membiayai hidupnya. Tapi profesi ini hanya dijalaninya selama sembilan bulan sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengkombinasikan karir konvensionalnya dengan kecintaannya terhadap gunung. Ia pun memilih untuk menjadi pendaki gunung profesional dan disuarakannya pada buku pertamanya berjudul “I Chose to Climb” (1966). 

Dalam karir pendakian gunungnya, Bonington memang dikenal sebagai "pemburu" puncak atau rute-rute perawan yang sulit. Ini dapat dilihat dari daftar panjang pencapaiannya di berbagai belahan bumi. Ia tercatat sebagai orang pertama yang mendaki Tower Tengah Paine, Patagonia (bersama Don Whillans, 1961), Old Man of Hoy (dengan Patey and Bailey, 1966), Brammah (6411 m) Kashmir (dengan Estcourt, 1973), Changabang (6864) Garhwal Himalaya (dengan Don Whillans, Doug Scott and Dougal Haston, 1974),  Ogre (7284 m) pada 1975 (dengan Doug Scott),Mount Kongur (7700 m) pada 1980 (dengan Peter Boardman, Rouse and Tasker), Puncak Barat Shivling (6501m) Gangotri pada 1983 (dengan Jim Fotheringham), Puncak Barat Menlungtse (7023 m) pada 1988, Rangrik Rang (6553 m) di Kinnaur Himalaya, bagian Utara India, Drangnag-Ri (6801 m) Rolwaling Himal dan Turquoise Flower (6650m) pada 1994, Danga II (6190m) Nepal Timur (dengan puteranya Daniel, saudaranya Gerald dan ponakannya, James, 2000), 3 puncak perawan pada Expedition to South Greenland tahun 2000, Pimu Peak (5490m) tahun 2004. 

Untuk hal ini, ia mengajukan alasannya; "Ada semacam ketertarikan khusus pada puncak perawan; pengetahuan bahwa tidak ada orang yang pernah menginjakkan kaki disitu sebelumnya atau menikmati kenyataan pemandangan 360 derajat dari puncak. Terdapat juga maksud yang sederhana; mencapai puncak yang memiliki kekuatan di dalam dirinya." 

Bonington juga tercatat sebagai salah satu organisator pendakian terbaik dalam sejarah pendakian gunung. Ia memimpin beberapa pendakian seperti Annapurna (sisi selatan) pada 1970, Mount Everest (sisi Barat Daya) pada 1972 dan 1975, K2 (Sisi Barat) 1978, Mount Kongur 1980, Mount Everest (Punggungan Timur Laut) 1982, Menlungtse 1987 (gabungan Norwegia-Inggris), Menlungtse 1988 (gabungan Inggris-Amerika-Tibet), Climbing Leader, 'Greenland The Hard Way' Expedition tahun 1988, Punggungan Barat Panch Chuli II (6904m) pada 1992 (Joint Leader dengan Harish Kapadia), Rangrik Rang (6553m) pada 1994 (Joint Leader dengan Harish Kapadia) dan Sepu Kangri (6800 m) juga pada 1994 (Gabungan Inggris-Tibet).

Pendakian yang dianggap paling impresif dari seorang Bonington adalah ketika ia mengorganisir upaya ke puncak Annapurna melalui sisi selatan pada 1972 dan sisi Barat daya Everest pada 1975. Keduanya sangat curam dan secara teknis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Pada saat itu, belum ada dinding raksasa Himalaya yang pernah didaki orang. Dan menuju dinding besar setinggi 12.000 kaki berarti melangkah ke ketidaktahuan dimana di dalamnya terdapat bentangan batu dan salju di atas ketinggian 24.000 kaki dpl. Namun dengan pemilihan anggota tim, pengaturan peralatan, penentuan strategi pendakian dan kerjasama tim yang baik, sisi selatan Annapurna akhirnya bisa diatasi. Dougal Haston dan Don Whillans berhasil mencapai puncak Annapurna pada 27 Mei 1970. Sementara sisi Barat Daya Everest sukses dilewati pada 1975 setelah sempat mengalami kegagalan pada 1972 akibat cuaca buruk. Doug Scott dan Dougal Haston mencapai puncak pada 24 September dalam sebuah pendakian yang digambarkan sebagai "The Hard Way".

Meski berhasil mengorganisir beberapa pendakian, puncak tertinggi di dunia, secara pribadi Mount Everest baru bisa diraih Bonington pada 1985 ketika usianya sudah mencapai 50 tahun! Kesuksesan di sisi Barat Daya Everest sebagai pimpinan 10 tahun sebelumnya, bukan menjadi penghalang bagi dirinya untuk menjadi "hanya" sebagai kepala staff logistik dan penasehat teknik pada Norwegian Everest Ekspedition. Bonington justru banyak belajar dari pendakiannya kali ini. Delapan belas pendaki berhasil mencapai puncak Everest dari tiga arah yang berbeda. Menurutnya, hal ini bisa terjadi bukan cuma karena perencanaan dan pengorganisasian yang sangat baik, melainkan juga banyak dipengaruhi oleh keinginan setiap anggota tim ekspedisi untuk saling membantu dan bekerjasama sebagai sebuah tim. 

Berdasarkan pengalaman-pengalamannya tersebut, Bonington kemudian mulai  melihat keterkaitan erat antara pendakian gunung dan manajemen bisnis global. Ia lalu menggunakan pengalamannya di gunung untuk menginspirasi perusahaan atau tenaga kerja dan diaplikasikan pada manajemen modern. Dengan menggunakan teknologi digital untuk menghubungkan foto, animasi komputer dan video dari pendakiannya, ia mempresentasekan bagaimana kesuksesan pendakian bisa diraih dan mengaitkannya dengan bagaimana kesuksesan bisnis bisa dirah. Kisah-kisah dramatis dari pendakiannya juga dikaitkannya dengan kenyataan sehari-hari dalam perusahaan. Dengan penyampaian sederhana, lugas dan menarik, Bonington berhasil membangun reputasi sebagai salah seorang motivator bisnis terkemuka di dunia. Dua presentase yang sangat menarik adalah SUCEEDING WITH CHANGE dan CLIMB EVEREST'S SOUTH WEST FACE.

Scott Merangkak di Ogre (Scott/Bonington Photo Library)
Pusat kajian Bonington dalam SUCEEDING WITH CHANGE adalah Manajemen Krisis, Mengatasi Rintangan dan Menciptakan Reaksi Positif terhadap Perubahan. Menurut Bonington, pendaki yang berhasil adalah mereka yang tidak melawan liingkungan sekitarnya. Mereka dengan sadar harus membiasakan diri dengan lingkungannya; menginterpretasikan fenomena-fenomena dan mengambil tindakan yang tepat untuk itu. Strategi yang diterapkan harus bisa beradaptasi dengan realitas perubahan dari setiap unsur, baik itu eksternal (Kondisi Alam) maupun internal (Anggota Tim). Ia mencontohkan bagaimana perubahan itu sangat berpengaruh ketika Doug Scott mengalami patah pada kedua kakinya setelah mereka sukses mencapai puncak Ogre (7284 m) pada 1975. Bonington sendiri kemudian juga mengalami patah tulang rusuk dan pneumonia (radang paru), yang membuat keduanya harus merangkak turun di tengah hantaman badai salju. Dengan bantuan Mo Anthoine dan Clive Rowland, keseluruhan anggota tim harus bahu membahu mengatasi 5 hari kekurangan makanan dan rintangan alam. Dengan skill dan sikap positif dalam bekerja sama, mereka akhirnya bisa tiba di Base Camp dengan selamat. Pendakian ini lantas diakui komunitas pendaki internasional sebagai keberhasilan pertama mencapai puncak perawan Orge. Bonington tidak hanya menyajikan kepada peserta seminar bagaimana bisa bertahan hidup, tapi juga meraih keberhasilan dengan berteman bersama perubahan. Belakangan Management of Change menjadi kajian baru dalam ilmu Manajemen. 

Sementara pada  CLIMB EVEREST'S SOUTH WEST FACE, peraih gelar kebangsawanan kerajaan Inggris pada 1996 ini, memusatkan perhatiannya pada Kepemimpinan yang Visionary, Pendelegasian Wewenang, Sinergi dalam Kerjasama Tim, Perencanaan dan Pengorganisasian serta Kebulatan Tekad dan Ketekunan. Dengan penyajian yang interaktif, para peserta diajak terlibat secara simulasi dalam ekspedisi 1975, baik dalam perencanaan maupun pendakiannya itu sendiri. Topiknya lebih banyak menguji kemampuan leadership dan dinamika kelompok dibanding memaparkan taktik pendakian. Peserta diajak menyelesaikan masalah seperti memotivasi tenaga sherpa, menghadapi konflik kepentingan yang disebabkan oleh ambisi pribadi setiap anggota tim, memilih anggota yang akan ke puncak, mengatasi krisis dan tragedi ketika Mick Burke hilang di ketinggian Everest dan bagaimana menganalisis kesalahan sebaik menganalisis keberhasilan. Bonington juga menggiring peserta membandingkan situasi ekspedisi ke kondisi yang sering dihadapi di tempat kerja mereka sehari-hari. Metode ini sangat efektif mempengaruhi peserta terlibat secara aktif dan menyadari peran mereka sebagai suatu kesatuan dalam sebuah tim kerja. Apresiasi yang sangat tinggi terhadap gaya manajemen ala Bonington ini dapat dilihat pada beberapa komentar dari peserta di sebuah presentase yang dilakukannya: 

"Pastinya, dan dengan persetujuan delegasi lain, materi anda adalah salah satu yang paling menginspirasi dan menggugah pikiran dari yang pernah kami ikuti."
 -The Hon John Sinclair, Chief Exec., Granfel Holdings Limited-    

"Keterkaitan antara proses dalam pendakian gunung dan proses manajemen bisnis sudah sangat jelas. Dan relevansi antara pengalaman anda dengan bisnis kami sangat dihargai oleh semua rekan-rekan kerja saya."
—David Setchell, Managing Director, Gulf Oil (UK)-

"Study Multimedia anda telah memberi kami wawasan yang lebih banyak terhadap pendelegasian tugas kepemimpinan dibandingkan semua buku kami dengan topik yang sama."
-Professor Susan Vinnicombe, Director of Graduate Research, Cranfield School of Management- 

Bagaimana pun, Bonington telah membuktikan bahwa kegiatan pendakian gunung tidak hanya sekedar sebuah alternatif hobi atau olah raga. Banyak perusahaan terkenal telah menggunakan jasanya dalam training-training manajemen. Bebrapa diantaranya adalah Apple, Barclays Bank, British Aerospace, British Airways, British Telecom, BP, Cadbury, Cedel, Civil Service College, Compaq Computers, Credit Lyonnaise, Hewlett Packard, Digital, General Motors, Guinness, Gulf Petroleum, IBM, Institute of Personnel Management, Irish Telecom, Jardine Matheson, Kodak, Management Centre Europe, Marconi, Minit International, Morrison Construction, National Power, National Gas, Prudential Insurance, Quality Scotland Foundation, Reed International, Searle Pharmaceuticals, Shell, Smith Kline Beecham, Sunlife, Woolwich Building Society dan Volvo. 

Salah satu videonya berjudul LEADING TO THE TOP yang didistribusikan oleh Connaught Training Ltd, bahkan menjadi salah satu materi Management Training paling laku di dunia  dan sempat digunakan  sebagai materi kuliah pada "Sloan Programme" di The London Business School dan di Cranfield University pada level doktoral.

Selain itu, Bonington sendiri juga sangat paiawai dalam jurnalistik dan menulis buku. Sekitar 17 belas buku telah ditulisnya dan kebanyakan menjadi Best Seller. Ia juga meproduksi acara TV seperti LAKELAND ROCK yang berhasil memenangkan penghargaan pada The Golden Shot award pada Portoroz European Sports Film Festival tahun 1986; EVEREST YEARS Film Dokumenter TV yang diangkat dari bukunya sendiri berjudul sama dan berhasil memenangkan medali emas pada Sports programmes (penghargaan tertinggi) pada 1988 New York Film and TV Festival; THE CLIMBERS yang ditayangkan sebanyak 6 seri di BBC Television; EVEREST - BLOOD SWEAT AND TEARS, sebuah acara yang dibuat untuk memeringati 40 tahun pencapaian pertama puncak Everest, dimana ia bertindak sendiri sebagai penulis sekaligus naratornya.

Bonington memang pemimpin yang sarat dengan penghargaan. Dari kerajaan Inggris ia diberi penghargaan CBE (Commander of the Order of the British Empire) pada 1976 karena kesuksesannya di Everest pada 1975; gelar kebangsawanan (Sir) atas jasanya di dunia olah raga; dan Commander of the Royal Victorian Order (CVO) pada 2010 atas jasanya pada Lembaga Outward Bound. Peghargaan lain yang diperolehnya adalah Founder's Medal of the Royal Geographical Society, Lawrence of Arabia Medal of the Royal Asian Society, Livingstone Medal of the Royal Scottish Geographical Society, Doktor Kehormatan Hukum Perdata (Northumbria), Doktor Kehormatan Science (Sheffield), Doktor Kehormatan Science (Lancaster), Doktor Kehormatan (Sheffield Hall University), MA Kehormatan (Salford), Beasiswa Kehormatan (UMIST) dan Beasiswa Kehormatan (North Lancashire). 

Ia juga pernah menduduki jabatan penting seperti Ketua Mount Everest Foundation, 1999 - 2001; President Council for National Parks, 1992 – 1999; Ketua Corporate Forum Council for National Parks, 1992; Presiden Lepra, 1985; Presiden The Alpine Club, 1996-98; Presiden British Mountaineering Council, 1988-1991; Ketua Mountain Heritage Trust of the BMC, 2000; Presiden British Orienteering Federation, 1986; Presiden National Trust Lake District Appeal; Wakil President Army Mountaineering Association; Wakil Presiden Young Explorers Trust; Wakil Presiden Youth Hostels Association (England & Wales); Wakil Presiden British Lung Foundation; Dewan Perwalian Calvert Trust Outdoor Activity Centre for the Disabled; Dewan Perwalian Outward Bound; Ketua Outward Bound Risk Management Committee; Dewan Perwalian Himalayan Environment Trust; dan Penandatangan Perjanjian Mountain Wilderness Association.  

Sampai sekarang Bonington masih aktif melakukan pendakian-pendakian ringan. Ia hidup tenang di rumahnya yang dikelilingi padang rumput dan bukit-bukit rendah yang indah. Bonington hanyalah salah satu contoh dari banyak pendaki yang bisa memaparkan manfaat dari pendakian gunung dengan begitu gamblang. 

Bagi para pendaki, hal ini tentu sebuah cermin besar motivasi yang tidak bisa retak. Pergilah ke gunung dan raih apa saja yang ingin diraih, namun kebijaksanaan meraih manfaat non-teknis sama berharganya dengan keberhasilan mencapai puncak itu sendiri - sesulit apa pun ia secara teknis. Rasanya sangat rugi bila cuma mendapatkan satu hal saja, kan?

Dan bagi mereka yang awam atau alergi terhadap pendakian gunung, masih sia-siakah kegiatan ini dengan kisah Sir Chris Bonnington di atas? Anda yang berhak menentukan.

Permitted to Re-Post by its Source



1 komentar:

  1. Nasi Liwet Instan Kabayan Gaya Baru Resep Karuhun Aneka Rasa Original, Teri, Jambal dan Cumi. Dibuat Dari Beras Asli Pegunungan Berkualitas Tanpa Bahan Pengawet Dan Pemutih. Praktis Hanya 15-20 Menit Tanpa Repot Menyiapkan Bumbu. Pulen, Wangi, Gurih Dan Menggugah Selera.... www.liwetkabayan.blogspot.com. Order 085780267040

    BalasHapus