Messner vs Kukuczka?

Apa yang tergambar dalam benak anda ketika membaca judul di atas? Saya yakin jawabannya pasti semacam duel, perlombaan atau sebuah pertandingan. Tapi harapan saya terhadap apa yang tergambar dalam benak anda ketika selesai membaca tulisan ini adalah sebaliknya; tidak mengasumsikan kisah mereka sebagai duel, perlombaan atau sebuah pertandingan.. Sebab mereka bukanlah petarung atau sebuah klub olahraga – meski dalam konteks berbeda, mereka melakukan keduanya. Mereka hanyalah dua orang pendaki gunung yang berusaha menggapai 14 puncak di atas 8000 meter, seperti yang banyak diinginkan pendaki lain. Hanya saja keduanya digadang-gadang sebagai calon terkuat manusia pertama yang dapat mendakai keseluruhan 14 Eight Thousanders atau yang dikenal juga sebagai “The Crown of Himalayas”.

Dilahirkan pada 7 September 1944 di Bressanone, Tyrol Selatan, Italia, Messner memulai petualangannya di Pegunungan Alpen, Eropa. Pendakian ke Eight Thousanders itu sendiri nanti diawali di Nanga Parbat pada 1970. Meski sukses mencapai puncak, ia harus kehilangan G√ľnther Messner, adik laki-lakinya, dalam perjalanan turun 2 hari kemudian. Messner sendiri kehilangan 7 jari kakinya akibat frosbite (sengatan beku) selama pendakian.


Reinhold Messner

Setelah itu, satu persatu “The Crown of Himalayas” dapat diraihnya. Secara berurutan adalah Manaslu (8.156 m) 1972; Gasherbrum I (8.068 m) 1975; Dhaulagiri (8167 m) 1977; Everest (8846 m) 1978; K2 (8611 m) 1979; Shishapangma (8.012 m) 1981; Kanchenjunga (8.598 m); Gasherbrum II (8.035 m)  dan Broad Peak (8.048 m) 1982; Cho Oyun (8.201 m) 1983; Annapurna (8.091 m) 1985; Makalu (8.485 m)  dan Lhotse (8.516 m) 1986. 


Messner dikenal sebagai pendaki fenomenal. Pendakiannya ke Everest  pada 1978 bersama sahabatnya, Peter Habeler, seolah-olah membuat ilmu pengetahuan harus merevisi kemampuan manusia bertahan di ketinggian. Mereka berdua mencapai puncak tanpa bantuan tabung oksigen sejak awal! Pendakian tersebut lantas tercatat sebagai “First Ascent Without Oxygen” di Everest. Setelah itu, di tahun yang saima, Messner melanjutkan pendakiannya ke Nanga Parbat sendirian, tanpa bantuan tabung oksigen dan hanya membutuhkan waktu 12 hari. 


Sebelumnya, lagi-lagi bersama Habeler, ia memanjat dinding utara (North Face) Eiger di Perancis dengan Speed Climbing - hanya membutuhkan waktu 10 jam untuk sampai di puncak! Keduanya berpendapat, kecepatan pendakian berbanding lurus dengan keselamatan diri karena dapat mengurangi kemungkinan ancaman longsoran salju dan cuaca buruk. Olehnya itu, Messner lantas dikenal sebagai pelopor Alpine Taktik di Himalaya, sebuah gaya pendakian yang mengutamakan efisiensi dan perhitungan yang cermat terhadap perlengkapan pendakian sebagai upaya mengurangi beban. 


Namun kebanyakan orang sepakat bahwa pendakian paling “gila” dari seorang Messner adalah ketika pada Agustus 1980, ia sukses mencapai puncak Everet di hari ke-3, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen dalam sebuah pendakian yang sangat berat! Sejarah Everest talu mencatatnya sebagai pendakian solo pertama di Everest. 


“Saya tak dapat mengulanginya lagi, saya telah mencapai batas kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia”, ujar Messner terputus-putus ketika tiba dengan selamat di Base Camp. 


Tahun 1983, Messner secara terbuka menyatakan keinginannya menjadi yang pertama untuk 14 Eight Thousanders. Sebagian orang mengaitkan pernyataan ini dengan persoalan sponsorship atau kepentingan media dan sempat memunculkan sinisme beberapa pendaki lain terhadapnya. Dengan koleksi 11 puncak “The Crown of Himalayans” ia memang menjadi yang paling mungkin untuk mencapai hal tersebut. Pendaki terdekat yang bisa menysulnya adalah Jerzy Kukuczka, seorang Polandia yang simple dan sederhana. Jurek, begitu Kukuczka biasa disebut, telah mencapai 6 puncak sampai 1983 hanya dalam waktu 4 tahun. Hal yang memang potensil dirubah publik untuk menjadi “ancaman” terhadap eksistensi Messner. 
Jerzy "Jurek" Kukuczka


Kukuczka lahir di Katowice, Polandia pada 24 Maret 1948. Karir pendakiannya tumbuh dalam kondisi sulit di sebuah negara komunis. Dengan segala keterbatasan tersebut Jurek masih sempat sukses di beberapa puncak di pegunungan di Alpen, pada pendakian musim dingin di sisi selatan Marmolada,  Italia atau pada sisi utara Grandes Jorasses. Tahun 1974 juga turut serta pada sebuah expedisi ke McKinley yang dimulai di utara the Dru dan kemudian diulangi di selatan Denali. Perjalanannya ke  Asia nanti dimulai di Tirich Mir (7692 m), Pakistan pada 1978.


Penetrasi Jurek ke 14 Eight Thousanders dimulai pada 1979. Dengan defisit 9 tahun dan 5 puncak dari Messner, ia melejit pada 4 tahun pertamanya. Lhotse menjadi awal petualangannya, disusul berturut-turut  Everest 1980; Makalu 1981; Broad Peak 1982; Gasherbrum II dan Gasherbrum I 1983; Dhaulagiri 1985; Cho Oyu dan Nanga Parbat 1985; Kangchenjunga, K2 dan Manaslu 1986;  Annapurna dan Shishapangma pada 1987.


Jurek dikenal sebagai pendaki sederhana. Ia menganggap dirinya sebagai orang biasa dan berpendapat bahwa Himalaya adalah untuk ‘orang-orang normal’, bukan untuk pendaki superstar yang elite. Ia tidak bertujuan mencari ketenaran dari apa yang dilakukannya dan hanya ingin mewujudkan mimpi pribadinya. Dalam mendaki, Jurek mengejar tujuannya dengan anggaran yang minim. Situasi politik di negaranya tidak memungkinkannya mendapatkan sponsor seperti yang diperoleh Messner atau pendaki barat lain. Seringkali ia sukses di sebuah puncak hanya dengan menggunakan peralatan yang dirancang sendiri atau dibeli secara second hand (bekas).

Meski demikian, Jurek bukanlah pendaki second hand. 9 pencapaian pertamanya ke 14 Eight Thousanders dilakukan via rute baru yang perawan. 4 puncak bahkan disentuhnya pada saat musim dingin dan menjadikannya sebagai orang pertama  yang mencapai Cho Oyu, Dhaulagiri,  Annapurna dan Kanchenjunga pada musim dingin. Jurek juga menjadi yang pertama menggapai ”The Crown of Himalayas” dalam waktu sangat singkat, 8 tahun (seperdua dari waktu yang dibutuhkan Messner). Ia pernah sekali menggunakan tabung oksigen (Lhotse) dan sekali mendaki solo (Makalu).

Jurek sedang berada di bawah Manaslu ketika menerima khabar tentang kesuksesan Messner di Makalu dan Lhotse yang secara otomatis mengakhiri “perlombaan” 14 Eight Thousanders di Himalaya. Messner sampai di garis finish pada 16 Oktober 1986, dengan “piala” secangkir kopi panas dari rekan-rekannya di Base Camp Lhotse. Kukuczka mengirimkan ucapan selamat melalui kabel kepada rekan Italia-nya itu dan melanjutkan petualangannya sendiri tanpa terpengaruh hiruk-pikuk publik. Dan ketika pada akhir tahun 1987, Jurek akhirnya mencapai Shishapangma, puncak terakhirnya, ia juga sekaligus telah mewujudkan mimpi-mimpinya sendiri selama ini. Bukan mimpi-mimpi milik publik.

Permitted to Re-Post by its Source

Tidak ada komentar:

Posting Komentar