Mengapa Mendaki Gunung? (Sebuah Kontroversi Klasik)

Tanggal 29 Mei 1953 merupakan hari bersejarah bagi penduduk bumi. Setelah “ditemukan” pada 1852, dianalisa sekitar tiga per empat abad dan coba didaki selama 32 tahun, puncak tertinggi dunia Mt. Everest (8848 m) akhirnya berhasil disentuh manusia. Edmund P. Hillary (Selandia Baru) dan Tenzing Norgay (Nepal)yang tergabung dalam sebuah Ekspedisi Inggris menjadi orang-orang pertama yang bisa berdiri di atas sana. Saat bertemu keduanya, John Hunt - pimpinan Ekspedisi ketika itu - menulis dalam catatan hariannya : “Berakhirlah sudah cerita kepahlawanan di Everest.”

Hunt ternyata telah menarik kesimpulan yang salah. Pendakian ke Everest tidak pernah berhenti melahirkan pahlawan-pahlawan baru. Berbagai sisi lain gunung itu mulai dirambah para pendaki dengan ciri khas masing-masing. Bahkan sampai sekarang masih banyak orang yang terganggu tidurnya karena ingin kesana. Tidak sedikit yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, uang bahkan nyawa hanya agar bisa sejenak menikmati sejengkal puncaknya. Dari pendaki yang terbiasa naik gunung dengan sepatu lars tentara, sampai mereka yang lebih sering menikmati sepatu ber-“crampon”. Semua rasanya bermimpi untuk berdiri di Everest. Ada yang kesampaian, namun lebih banyak yang harus puas hanya dengan memandangi fotonya setiap hari. Seperti saya ini.

Mengapa puncak gunung begitu memikat bagi sebagian orang? Mengapa harus ke tempat-tempat yang dingin membeku itu?

Tidak mudah untuk langsung menjawabnya. Sebab, mungkin semua orang “menyukai” gunung. Buktinya ketika masih kanak-kanak, bila diminta menggambar (pemandangan) oleh ibu guru di sekolah, jari-jari kita dengan cepat akan menghasilkan dua buah segi tiga biru muda yang di antaranya terdapat matahari terbit ditambah dengan sawah, jalanan dan sebuah rumah pada latar depannya. Hampir semua kanak-kanak mengenal gambar itu. Atau, bila disuruh menyanyi, kita mungkin akan mendendangkan lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” sebagai pilihan. Hampir semua orang dewasa di kota tahu syairnya, lalu tanpa ganjalan mengajarkannya kepada putera-puteri mereka. Setidaknya, semua orang sepakat bahwa gunung bisa mewakili simbol keindahan dan romantisme – sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Namun kenyataannya, banyak orang yang langsung berpikir berkali-kali saat diajak untuk melihat gunung dari dekat. Pengalaman berlibur ke rumah nenek di kampung atau pelajaran IPA yang disajikan di sekolah, telah memberitahukan kepada kita bahwa gunung memang bukan “Fuji Color Film”. Tidak seindah warna aslinya. Di atas sana tidak ada hal-hal yang bisa memanjakan hidup. Tidak ada warung coto, mall atau diskotik. Hutan lebat, tebing, jurang, ngarai, cuaca dingin atau binatang buas menjadi gambaran tetap hari-harinya. Keadaannya yang “tak lazim” itu dapat langsung menimbulkan beragam pertanyaan saat kita melihat anak-anak muda pada akhir minggu mulai menenteng ransel di pundak, hendak ke gunung.

Sebenarnya, interaksi manusia dengan gunung mulanya terjadi karena terdorong oleh sebuah “ketidaksengajaan”. Dahulu kala, orang mendatangi gunung bukan untuk mencapai puncaknya, melainkan untuk memenuhi beberapa tuntutan lain. Ada yang terdorong oleh faktor-faktor religius, seperti kisah Nabi Musa A.S. yang pergi ke bukit Tursina untuk mencari Allah SWT. Atau kebiasaan beribadah orang-orang Jepang Kuno yang naik ke G. Fuji sambil mendendangkan lagu-lagu pujian kepada dewa mereka.

Faktor kebutuhan hidup juga menjadi penyebab lain. Mereka pergi ke gunung untuk sebuah mata pencaharian. Hal ini nampak jelas pada pemburu Chamois (sejenis kambing gunung) di Pegunungan Alpen pada era 1490-an atau pada pengunduh sarang walet di tebing pantai Karangbolong pada era 1720-an. Ada juga yang terpaksa melintasi medan-medan berbahaya itu untuk selahan “promise land” penunjang eksistensi kaumnya. Migrasi besar-besaran ke India yang terjadi sekitar abad ke-4 SM, dipenuhi oleh perampok dan suku-suku penakluk yang masuk melalui celah-celah gunung di Hindu Kush, dekat batas India-Afghanistan sekarang. Disitu terdapat pula Pass (celah) sepanjang 128 km yang konon pernah dilewati Alexander Yang Agung pada tahun 329 SM.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang semakin pesat, membuat gunung juga tak luput dari perhatian orang-orang pintar. Pada 1760, Prof. Horace Benedict de Saussure, seorang Hartawan, Profesor Filosopi dan Naturalis asal Swiss, pernah menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil membuka rute pendakian ke puncak Mont Blanc (4807 m) di perbatasan Italia-Perancis. Ia ingin sekali mengadakan penelitian ilmiah di sana. Sayang tidak ada yang tertarik karena legenda naga-naga bernafas api yang konon hidup di puncak tertinggi Eropa Barat itu. Meski demikian, gunung itu ternyata berjodoh dengan kalangan ilmuwan. Tahun 1786, Dr. Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacquet Balmat, akhirnya berhasil mencapai puncaknya.

Meski banyak catatan lain, namun pendakian Sir Alfred Wills dan kelompoknya ke puncak Watterhorn (3708 m) pada 1854, diyakini banyak orang sebagai cikal bakal pendakian gunung dalam bentuknya seperti sekarang ini : sebagai alternatif hobi yang dapat memuat unsur petualangan, olahraga dan rekreasi. Keberhasilan borjuis Eropa ini lantas disepakati sebagai awal “Zaman Keemasan Pendakian Gunung” di Alpen.

Puncak-puncak mulai didaki manusia dengan unsur “kesengajaan”. Gunung-gunung perawan menjadi prioritas para pendaki. Mereka yang berhasil menjejakinya seolah-olah disejajarkan dengan pahlawan. Hasilnya, selama sebelas tahun Zaman Keemasan, kurang lebih180 puncak besar telah didaki manusia, sedikitnya satu kali dan lebih setengahnya dilakukan oleh orang-orang Inggris.

Tak dapat dihindari lagi, motivasi orang ke gunung pun semakin berkembang. Di Amerika sampai muncul ungkapan bahwa jika kita bertanya kepada seratus orang pendaki, maka kita akan mendapat seratus jawaban. Itu berarti faktor penggerak yang membuat orang rela bersusah-susah mendaki sangatlah beragam. Ada yang karena disiplin ilmu, olahraga, ibadah, pengenalan pada diri sendiri, aktualisasi diri, prestasi, prestise, broken home bahkan karena frustasi ditinggal pacar. Bagi dunia pendakian semua itu sah-sah saja. Namun bagi masyarakat awam, alasan tersebut sering dirasa tidak memadai untuk sebuah kegiatan yang taruhannya bisa saja nyawa sendiri. Apalagi imbalan dari pendakian gunung tidak cukup untuk memuaskan orang-orang dengan pola pikir berazas material. Tidak seperti peserta AFI Indosiar yang setiap minggunya dibanjiri hadiah dan uang.

Meski telah banyak alasan yang dipaparkan orang, namun ada satu yang sangat menarik bagi saya. Alasan ini dipaparkan oleh George Herbert Leigh Mallory - seorang pionir pendakian ke Everest - saat diwawancarai oleh “The New York Times” pada medio Maret 1923. Ketika ditanya mengapa ingin mendaki Everest, ia lalu menjawab dengan simpel: “Because it is there.” Sungguh sebuah jawaban yang terkesan acuh tak acuh. Sebuah jawaban yang amat pendek untuk sebuah gunung setinggi Everest.

Sebagian orang berpendapat bahwa Mallory menjawab seperti itu karena sudah bosan ditanyai mengapa hendak ke Everest – kemana pun dia dan Tim-nya pergi mempresentasekan rencana mereka – sementara di sisi lain persoalan persiapan Tim masih banyak. Namun, menurut saya, bila ingin ditilik lebih jauh, Mallory sama sekali tak bermaksud untuk menyepelekan motivasinya atau untuk sekedar menghindari kontroversi tentang itu.

Ia adalah anak seorang pendeta di Cheshire, Inggris, yang berpendidikan dan cerdas. Saat bersekolah di Magdalene College, Cambridge, ia banyak bergaul dengan seniman dan penulis. Selepas itu, Mallory menjadi pengajar di Charterhouse School. Ia adalah pribadi yang idealis, pemimpin yang kharismatik serta pemikir yang romantis. Meski pernah menjadi penembak meriam pada PD I (1914-1918), sifatnya yang terakhir disebutkan itu tidak hilang. Ini bisa dibuktikan pada surat-surat yang ditulisnya untuk Ruth Turner, istrinya, saat mengeksplorasi kaki Everest pada 1921. Surat yang jauh lebih banyak memuat unsur estetika dan nurani ketimbang persoalan teknis pendakian.

Mallory juga sudah menyaksikan kematian sembilan orang rekannya pada dua ekspedisi perintis (1921 dan 1922) sebelumnya. Bahkan, untuk mengenang sahabatnya, Dr. Alexander Mitchell Kellas, yang gugur di Kampa Dzong, ia mendaki puncak Ri-Ring (6858 m) dan menamainya sebagai puncak Kellas.

Lantas, dengan latar belakang seperti itu, mungkinkah Mallory masih bisa bermain-main dengan motivasinya ke Everest. Saya rasa, tidak! Sama sekali tidak!

Penjabaran dari alasannya seolah-olah mirip dengan pernyataan filusuf Gabriel Marcel : “Hakikat saya terdapat dalam engkau.” Mallory seakan-akan berusaha menggambarkan hubungan horizontal manusia dengan segala materi di alam ini. Sesuatu yang memang sudah harus terjadi secara esensial dan memungkinkan terciptanya eksistensi kita.

Sebab, pada dasarnya, pendaki gunung seperti kanak-kanak. Selalu banyak pertanyaan yang menghiasi benak mereka : “Apa yang ada di atas sana?” “Bagaimana rasanya berdiri di puncak itu?” atau “Sampai dimana ambang batas ketahanan manusia?” Bedanya, bila kanak-kanak cenderung mencari jawaban pada orang yang lebih tua, para pendaki justru langsung memasuki zona ketidaktahuan mereka, mengalaminya secara nyata, lalu memberi khabar kepada orang banyak. Tantangan seperti itu memang hanya bisa dipahami oleh mereka yang melakukannya.

Keingintahuan itulah yang mendorong mereka untuk terus berjalan ke horizon berikutnya. Tak peduli pada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Hal ini pula yang membuat manusia banyak melakukan penemuan-penemuan ilmiah. Dan mungkin itulah yang dimaksud Mallory. Sebuah karunia besar dari Yang Maha Kuasa yang harus dihargai oleh siapa pun.

Jawaban Mallory adalah alasan sepanjang zaman dari berbagai motivasi orang mendaki gunung, setidaknya bagi saya. Ia sebenarnya telah berusaha memaparkan sesuatu yang mendasar. Agaknya, Mallory amat menyadari bahwa mendaki gunung adalah replika dari kehidupan itu sendiri. Belakangan, kalimat pendeknya ini menjadi legenda yang terpisah dari legenda pria yang lahir pada 1886 itu. Banyak orang yang menaruh respek dengan kata-kata tersebut, meski tetap tidak mampu mengakhiri kontroversi klasik tentang motivasi mendaki gunung.

Dan bila pada Juni 1924, Mallory (dan seorang kawannya, Andrew Comyn Irvine) akhirnya juga harus gugur tersapu badai di Everest, hal tersebut tetap tidak menyurutkan minat orang ke gunung. Sebab, selama manusia masih punya rasa ingin tahu, gunung tidak akan pernah kekurangan pengunjung. Ya, karena dia ada disana.

“A Tribute to the Pioneers”
Makassar, April 2004

Permitted to Re-Post by its Source: petualangbwk.blogspot.com

4 komentar:

  1. Inspiratif Bang...Kontroversi klasik ini selalu muncul karena perbedaan kedekatan tiap orang terhadap gunung. Ada yang sebatas melihat gunung,ada yang tahu tentang gunung,ada yang memahami gunung, dan ada yang hidup bersama dengan gunung sebagai satu kesatuan sistem alam semesta. Alasan yang dipakai oleh tiap orang akan menentukan di level atau pos mana ia berdiri. Dan pada tahapan orang-orang yang berani menyebut dirinya sebagai 'Pendaki gunung'' minimal Ia dapat bertanggungjawab terhadap gunung yang Ia daki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks..Semoga bermanfaat utk kita semua

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. beberapa sumber yang saya dapat karena gunung memang seperti rumah bagi mereka pecinta pendakian, mungkin yang mereka cari ada di gunung, meskipun untuk mencapai puncaknya butuh perjuangan yang tidak kecil dengan bawaan barang yang sangat banyak :)

    BalasHapus