SOPUTAN: The Black Sand Mountain (Not High, but not Easy!)

Gunung Soputan adalah sebuah gunung berapi yang terletak di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Gunung ini tercatat telah terjadi letusan yang cukup sering dalam rentang waktu beberapa tahun sekali. Gunung Soputan berjarak sekitar 50 kilometer di sebelah baratdaya-selatan kota Manado dan berjarak sekitar 12 kilometer di sebelah timur laut kota Tombatu, kabupaten Minahasa Tenggara. Letusan Soputan tercatat terjadi pada tahun 1785, 1819, 1833(?), 1845, 1890, 1901, 1906, 1907, 1908-09, 1910, 1911-12, 1913, 1915, 1917, 1923-24, 1947, 1953, 1966-67, 1968, 1970, 1971, 1973, 1982, 1984, 1985, 1989, 1991-96, 2000-03, 2004, 2005, 2007, 2008 dan 2011. Tipe erupsi dari Soputan adalah ledakan, kubah lava, aliran piroklastik, dan aktivitas strombolian. (Sumber: Wikipedia.org)

Pada awal Mei 2011, salah seorang crew zonapetualang.com, berkesempatan untuk menjajal medan salah satu gunung api paling aktif di dunia yang berketinggian 1783 m dpl ini. Berikut ini liputannya.


Hampir sepuluh tahun tidak melakukan “attempt” ke sebuah puncak memang bermakna sejuta kata bagi saya. Sensasi ketika berjalan menembus kabut tebal, berdiri lebih tinggi dari awan, bertahan di tengah hantaman badai, melintasi padang edelweiss, scrambling pada crux (bagian sulit) sebuah punggungan sampai berdebat sengit untuk mengambil keputusan, kini terbayang-bayang di depan mata. Di sisi lain, keraguan terhadap kemampuan fisik untuk melakukannya, secara bersamaan menyeruak dalam benak dan berbaur dengan adrenalin yang mulai bergolak. “Conflict Interest” dalam diri ini akhirnya menjelma menjadi debar-debar jantung yang tak beraturan. Dan itu tak dapat dibahasakan hanya dengan puluhan kata saja.

Pinabetengan
Saya sedikit terbantu mengatasi hal tersebut ketika tiba di Pinabetengan, desa terakhir yang menjadi entry point kami ke track pendakian. Kondisi rumah terakhir dengan latar langit biru cerah pagi hari, mengingatkanku pada ranch-ranch di luar negeri. Kuda dan sapi berkeliaran bebas di halaman luasnya yang penuh rumput. Rumah utamanya sendiri tidak besar namun tetap saja mampu menyiratkan strata sosial pemiliknya. Aroma “outdoor” amat terasa disini dan mampu segera menstimulir gejolak adrenalinku untuk mengalahkan keraguan pada kondisi fisik. Rasanya ingin segera melihat Soputan dari dekat. Mengapa harus ragu? Tuhan selalu bersama orang-orang yang berdoa!

Meski tidak tinggi, Soputan tetaplah misteri bagi saya. Saya hanya pernah melihatnya dari jauh. Saya tidak tahu gambaran medannya secara detail. Tapi dalam sebuah misteri selalu ada informasi dan dalam sebuah informasi selalu ada yang bisa dipelajari. Mendaki gunung memang seperti sedang belajar di sebuah sekolah tanpa reputasi. Tapi menariknya, pelajarannya tidak akan pernah didapatkan meski pada jenjang S3 sekalipun! Buku-bukunya tanpa tulisan, perpustakaannya tanpa dinding dan rak. Ruang kelasnya adalah pengalaman jiwa-raga. Tidak ada gelar kelulusan karena pengajarnya sesungguhnya berasal dari dalam diri kita, jauh di dalam jiwa kita.

Salah satu bagian dari "Rute Patah Hati"
Rute pendakian via Pinabetengan ini memang agak terjal. Para pendaki disini menggelarinya sebagai “Rute Patah Hati” – seolah-olah meggambarkan tingkat “penderitaan” saat melewatinya. Meski kenyataannya disini tidak ada medan scrambling atau vertikal yang terbuka, tetap saja saya tertatih-tatih melewatinya. Mempunyai teman sependakian yang umurnya rata-rata setengah dari umurku dan masih fresh, membuat saya selalu tertinggal di belakang. Agak kesulitan juga mengimbangi langkah-langkah muda mereka. Meski demikian, saya terus berusaha dan berharap aura positif tim dapat segera tercipta. Tidak mudah memang melakukan “jam session” di gunung. Resikonya bisa fatal.

Butuh waktu sejam lebih sedikit untuk sampai di ujung tanjakan ini dan bertemu rute lebih landai dari arah timur. Dari sini, Pinus Satu, tempat yang biasa digunakan untuk sejenak beristirahat katanya tidak jauh lagi. Saya mulai ragu dengan informasi “tiga jam sampai di puncak” yang disampaikan ketika masih di Manado. Bila setelah Pinus Satu kami masih harus melewati Pinus Dua (Base Camp), Pemandangan dan Batu Angus sebelum akhirnya memulai pendakian ke punggung Soputan, maka saya yakin perjalanan ini akan butuh waktu yang lebih lama. Amat jarang jarak sebuah poin ke poin lain di sebuah gunung hanya  butuh waktu 15 menit perjalanan. Apakah saya yang berjalan terlalu lambat di “Rute Patah Hati” tadi? Tapi saya, kok, kurang yakin. Yang saya yakini, sebuah gunung memang tidak perlu didaki hanya untuk sekedar mengukur ketinggiannya. Tapi ia perlu didaki untuk mengetahui ketinggian pemahaman kita  terhadapnya dan juga terhadap diri sendiri.

Saya berupaya melupakan keraguan waktu tempuh tadi sebagai upaya menjaga keseimbangan tim. Dan hal tersebut semakin cepat terwujud ketika fokus perhatianku tertuju pada celah (pass) unik selepas Pinus Satu. Saya katakan unik karena celah ini juga merupakan aliran sebuah sungai kecil yang penuh dengan serpihan belerang. Kami harus melintasinya, tidak ada jalan lain. Memang ada kemungkinan membuat rute di atas sungai ini, melalui lereng-lereng gunung di kedua sisinya. Tapi nampaknya rute inilah yang paling “enak”.

Celah (Pass) berupa sungai yang harus dilewati
Variasi rute segera berganti ketika sungai semakin sempit. Jalur pendakian kemudian memotong lereng terjal di sisi kiri sungai sebelum akhirnya masuk ke sebuah punggungan lebih landai menuju Pinus Dua. Hutan pinus disini lebih luas dan terbuka dibanding Pinus Satu. Tempat ini sangat bagus untuk nge-camp. Mungkin karena alasan itu sehingga tempat ini juga sering disebut Base Camp. Kami pun memilih untuk beristirahat dan ngopi disini.  

Pinus II (Base camp)

Ada sekelompok pendaki yang sedang nge-camp disini sejak kemarin. Mereka berasal dari Langowan – sebuah kecamatan di Kabupaten Minahasa yang letaknya tak jauh dari Pinabetengan. Dari mereka kami mendapat informasi bahwa sejak erupsi besar tahun 2008, tidak ada lagi “fixed route” di Soputan. Makanya, sejak saat itu, amat jarang pendaki yang mendaki sampai ke puncak. Entahlah.

Yang pasti, rasa ingin tahuku bertambah besar. Saya menjadi semakin penasaran ingin segera melihat gunung ini dari dekat. Katanya, hal tersebut nanti bisa dilakukan ketika tiba di tempat bernama “Pemandangan” - sekitar 30 menit perjalanan dari tempat ini. Makanya, kami pun segera bergegas. Waktu sejam istirahat disini rasanya sudah terlalu lama.

Medan ke Pemandangan tidaklah terlalu terjal. Berdasarkan vegetasi yang terdapat di sekitar jalur pendakian, saya memperkirakan ketinggiannya berkisar 1000 m dpl. Kami tidak membawa altimeter untuk memastikannya. Puncak Soputan sendiri memang tidak tinggi bila dibandingkan dengan gunung-gunung lain yang pernah saya daki sebelumnya. Head to head dengan Bulusaraung (gunung petualangan paling rendah di Sul-Sel), misalnya, akan menghasilkan selisih sekitar 200 m lebih tinggi dibandingkan gunung ini. Namun rentang elevasi antara Pinabetengan dan puncak, kenyataannya cukup merepotkan juga. Tetap saja saya tertatih-tatih menapakinya.

Pukul 12.15 kami tiba di Pemandangan, sebuah tempat terbuka pada sebuah punggungan. Saya tak menemukan nama puncak dari punggungan ini di Peta Bakosurtanal yang kami bawa. Disini saya menyadari bahwa Soputan merupakan areal gunung yang terpisah dari rute Pinabetengan – Pemandangan. Sebuah lembah besar menganga di hadapan kami dengan dasar yang dihiasi oleh kumpulan batu hitam dimana-mana. Itulah tempat yang dinamakan Batu Angus (Batu Hangus). Saya memperkirakan batu-batu tersebut adalah hasil buangan erupsi dari gunung ini.
Gunung Soputan, nampak Soputan Anak pada latar depan

Soputan sendiri tak kalah menggentarkan. Dari balik kabut tebal, dapat terlihat warnanya yang hitam pekat dan tak ditumbuhi satu pohon pun - menyiratkan betapa “panasnya” bagian dalam gunung ini. Hanya ada kumpulan rumput yang tersebar secara acak. Saya yakin, air akan sulit didapatkan disana. Di depannya terdapat sebuah gunung kecil yang sering disebut “Soputan Anak”. Tingginya kira-kira setengah dari tinggi induknya. Apakah ini sebuah gunung parasit dalam istilah geologi? Saya sadar tidak punya kapasitas untuk membahasnya. Saya cuma bisa menduga seperti itu.

Meskipun telah mendapatkan ritme pendakianku kembali, tapi saya sekaligus mulai menghitung waktu di atas kertas secara realistis. Untuk sampai di Batu Angus setidaknya membutuhkan waktu sejam. Dari situ kami harus memotong punggungan Soputan Anak sebelum akhirnya betul-betul berada di kaki Soputan. Dari sini sampai ke puncak, dengan medan pasir seperti itu, kurang-lebih butuh waktu sekitar dua jam. Itu berarti kami akan tiba di puncak nanti pukul 15.30. Ditambah perjalanan turun kurang lebih tiga setengah jam, kami tentu bisa kemalaman tiba di Pinabetengan.

Hitungan realistis itu semakin kuat ketika kami mulai tertatih-tatih memotong punggungan Soputan Anak. Medannya yang berpasir namun solid membuat perjalanan jadi lambat. Beberapa kali kami terpeleset akibat licinnya rute yang dilewati. Untung saja kabut melindungi kami dari sinar matahari siang. Kalau tidak, kami sekaligus bisa terpanggang disini.
Upaya memotong punggungan Soputan Anak
Pukul 13.30 kami memutuskan untuk berhenti dan berdiskusi tentang kondisi selanjutnya. Dan inilah asyiknya mendaki gunung. Tidak cuma membutuhkan otot (olah fisik) dan otak (olah pikiran), tapi juga koordinasi, perenungan, kerjasama tim, interaksi psikologis secara internal/eksternal dan hal lain yang dapat dikategorikan sebagai olah jiwa – sebuah hal yang jarang disadari dan dilatih saat berada di kota. Kami memang akhirnya harus memilih. Dan pilihannya adalah dua orang mencoba mendaki Soputan Anak, tiga orang kembali dan menunggu di Batu Angus. Puncak Soputan sendiri tidak akan kami daki dengan pertimbangan waktu yang tidak cukup. Inilah maksud dari kutipan Ed Viesturs, seorang pendaki terkenal asal AS: "It's a round trip. Getting to the summit is optional, getting down is mandatory."

Mencari pijakan ke Soputan Anak (nampak di belakang punggungan G. Soputan)
Kabut tebal mulai menghalangi  pendakian ke Soputan Anak. Saya berkali-kali harus menggali pasir hanya untuk mendapatkan pijakan yang lebih baik akibat licinnya medan. Sekitar 5 menit mendaki, kabut pun semakin tebal. Visibility hanya sekitar 5 meter. Saya mulai kehilangan pandangan terhadap posisi Pardi, apalagi teman-teman yang menunggu di bawah. Saya coba memanggilnya, namun yang balas menyahut adalah Jendry di Batu Angus. Rupanya suaraku di bawa angin ke bawah. Saya memutuskan untuk terus mendaki sampai mendapati seonggok batu besar di medan yang slab. Saya coba kembali memanggil namun kali ini tak ada balasan, pun dari teman-teman di bawah. Harapanku, puncak tak jauh lagi ketika kemudian mendapati medan yang lebih landai. Pendakian menjadi lebih ringan kini.

Saya tidak lagi memanggil-manggil sewaktu beristirahat karena menduga Pardi sudah lebih duluan turun. Agak lama saya berada di tempat ini sambil berharap kabut akan tersibak sehingga pandangan bisa lebih terbuka. Namun kenyataannya, kabut rasanya semakin tebal. Saya lalu putuskan untuk melanjutkan perjalanan karena udara dingin mulai menembus kulitku. Memang agak beresiko berjalan di tengah kabut pada medan seperti ini. Tapi pilihan untuk tetap tinggal juga punya resiko yang sama.

Soputan Anak
Saya memutuskan untuk berbalik arah ketika medan di depanku mulai menurun. Puncak Soputan Anak tentu sudah terlewati, meski pun saya juga tak jelas dimana letaknya. Jejak-jejak kakiku tadi menjadi patokan untuk kembali ke Batu Angus. Masih di tengah tebalnya kabut, saya tiba-tiba mendengar suara Pardi berteriak memanggil dari atas. Saya membalas tapi dia terus memanggil. Nampaknya dia tidak mendengar suaraku. Saya putuskan untuk menunggunya. Beberapa saat kemudian kami sudah bisa berkomunikasi meski masih tidak dapat saling melihat satu sama lain. Kami berdua akhirnya sepakat turun, melalui rute kami masing-masing.

Puncak Soputan Anak
Di batas kabut kami pun beristirahat. Tiga orang teman sependakian sudah keliatan di dekat Batu Angus di bawah sana. Dari informasi Pardi, saya simpulkan bahwa puncak Soputan Anak berada di samping kanan rute yang saya lewati. Berarti tadi kami mungkin cuma terpisah dalam jarak paling jauh 20 meter! Namun karena kabut tebal dan angin kencang, kami tidak bisa berkomunikasi satu sama lainnya. Akibatnya, saya hanya melewati areal puncak tapi tidak pernah berdiri persis di puncaknya. Karena menurut Pardi, puncak Soputan Anak ditandai dengan sebuah tower pemancar yang entah milik siapa. Dan saya tidak pernah menemukan itu. Sayang sekali.

Kami berlima pun akhirnya memutuskan turun setelah mengambil gambar di sana-sini. Memang banyak hal yang bisa dipelajari dari setiap pendakian. Kami tidak bisa mencapai puncak kali ini karena informasi waktu tempuh yang salah sejak awal. Akibatnya berimplikasi langsung pada perencanaan perjalanan.

Saya menatap ulang Soputan ketika tiba di Pemandangan. Puncaknya masih juga diselimuti kabut. Betul-betul sebuah Gunung Pasir yang Hitam. Kami berencana melakukan attempt ulang ke puncaknya pada Juli depan, pastinya dengan perencanaan waktu yang lebih matang. Kesalahan kali ini harus ditebus dengan kegagalan. Meski demikian, setidaknya, kami tidak salah dalam mengambil keputusan untuk tidak mendakinya tadi. Karena ketika tiba kembali di Pinabetengan, waktu menunjukkan pukul 17.40. Sudah barang tentu waktu yang sangat ideal untuk kembali ke kota - kembali ke rutinitas keseharian kami masing-masing.

Notes:
Pada Minggu, 3 Juli 2011, pukul 06:30 WITA, Soputan kembali mengalami erupsi besar dan sampai tulisan ini diposting, gunung tersebut masih ditutup sementara waktu untuk kegiatan pendakian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar