In Memoriam: Erhard Loretan (28 April 1959 – 28 April 2011)

Tanggal 28 April 2011, komunitas pendaki gunung internasional geger. Erhard Loretan, salah satu pendaki  gunung kaliber dunia, gugur dalam sebuah kecelakaan ketika sedang mendaki punggungan Grünhorn (4043 m) di Bernese Alpen bersama kliennya.
Grünhorn (4043m)

Menurut polisi dari Swiss canton of Valais kecelakaan tersebut terjadi pada tengah hari di ketinggian 3800 m. Belum jelas apa yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi dan menimpa pendaki asal Swiss yang juga berprofesi sebagai Mountain Guide ini. Loretan meninggal di tempat, sementara kliennya yang berumur 38 tahun harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis (sumber; http://www.guardian.co.uk/). Ironisnya, Loretan meninggal tepat di hari ulang tahunnya yang ke-52.

Lahir di Bulle, Fribourg di Switzerland pada 28 April 1959, Loretan mulai mendaki gunung pada usia 11 tahun. Pada umur 15 tahun, ia berhasil mencapai puncak Doldenhorn (3645 m) dari sisi timur. Petualangannya di gunung pun menjadi lebih serius dengan beberapa pendakian yang dilakukannya di Alpen dan Andes. Tahun 1981, ia lolos kualifikasi untuk menjadi Mountain Guide yang kemudian ditekuninya sebagai profesi.

Seperti kebanyakan pendaki Eropa, Himalaya pun akhirnya mulai dirambah Loretan. Nanga Parbat menjadi puncak 8000 pertamanya pada tahun 1982 yang didakinya via Diamir. Setelah itu, Erhard Loretan menorehkan pencapaian-pencapaian yang sulit dilupakan.

Berturut-turut seluruh puncak di atas 8000 meter yang berjumlah 14 buah (The Crown of Himalaya) satu per satu ia daki dengan caranya sendiri. Gasherbrum II (8035 m), Gasherbrum I (8068 m) dan Broad Peak (8047 m) pada 1983, Manaslu (8163 m) dan Annapurna (8091 m) pada 1984, K2 (8611 m) dan Dhaulagiri (8167 m) pada 1985. Sampai titik itu, tak pelak lagi, Loretan secara tidak sengaja masuk dalam kandidat orang pertama yang mendaki seluruh 14 puncak di atas 8000 meter. Kandidat lain saat itu adalah Reinhold Messner/Italia (12 puncak) dan Jerzy Kukuczka/Polandia (9 puncak). Enam puncak tersisa dicapainya masing-masing; Everest (8848 m) pada 1986, Cho Oyu (8201 m) dan Shisha Pangma (8027 m) pada 1990, Makalu pada 1991, Lhotse (8516 m) pada 1994 dan terakhir Kangchenjunga (8586 m) pada 1995.

Loretan akhirnya menjadi orang ketiga dibelakang Messner yang menyelesaikan The Crown of Himalaya pada 1986 (dalam 16 tahun) dan Kukuczka pada 1987 (dalam 8 tahun) dalam track "All 14 Eight Thousanders". Ia kemudian menanggapi pencapaiannya itu dengan filosofis:
Erhard Loretan

“’Perlombaan’ ini sedikit keluar dari sasarannya. Saya percaya bahwa ini lebih merupakan perlombaan “media” dibanding perlombaan antara para pendaki. Mungkin saja saya salah. Tapi jika ingin bermain, menurut pendapat saya, pendaki harus mencapai titik tertinggi dan pastinya tanpa bantuan tabung oksigen. Sebenarnya, jika kita memiliki sedikit etika, hati kita akan memberitahukan apakah pendakian kita dilakukan secara jujur atau tidak. Secara pribadi, saya harus dua kali pergi ke Shishapangma, karena waktu pertama ke sana, rute kami menuju puncak utama sangatlah berbahaya.”

Meski hanya menjadi orang ke-3, tapi pencapaiannya tersebut sangat berkualitas. Dalam 13 tahun menjelajahi puncak-puncak 8000-an meter, ia melakukan semua hal yang biasa dilakukan pendaki modern. Alpine Style yang simpel dan cepat, pendakian musim dingin, pendakian pertama, rute baru yang sulit sampai mendaki pada malam hari. Beberapa "Highlight" dari seorang Erhard Loretan adalah  ketika ia mendaki Gasherbrum II (8035 m), Gasherbrum I (8068 m) dan Broad Peak (8047 m) hanya dalam 17 hari pada 1983. Di tahun berikutnya, ia melakukan pendakian pertama (first ascent) dinding timur Annapurna (8091 m) bersama Norbert Joost. Setelah itu, ia melakukan pendakian pertama pada musim dingin di dinding timur Dhaulagiri (8167 m) yang sangat impressif dan menjadi "Headline News", bahkan sampai sekarang. Sementara pada 1990 ia melakukan first ascent lagi pada dinding barat daya Cho Oyu dalam 27 jam dan first ascent pada dinding selatan Shsha Pangma (8046 m) dalam 22 jam. Keduanya dilakukan hanya berselang beberapa hari saja.

Satu lagi pendakian Loretan yang paling bersejarah adalah ketika ia bersama rekan Swiss-nya, Jean Troillet, seolah-olah membuat "revolusi" di puncak tertinggi dunia. Berdua mereka mendaki Everest (8848 m) via the Hornbein couloir dan kembali turun hanya dalam waktu 43 jam, tanpa tenda, sleeping bag dan bantuan tabung oksigen! Mereka juga melakukan pendakian pada malam hari saat itu. Sebuah "hard way" yang tentu membutuhkan skill, ketahanan fisik, mental prima dan strategi yang matang. Meski menjadi perbincangan di seluruh dunia dan headline dimana-mana, Loretan menanggapinya dengan rendah hati:

"Kami tidak berniat mendaki Everest dalam dua hari, kami hanya berangkat ke sana saja dan beruntung karena dapat melakukannya dalam dua hari," kenang Loretan. "Saya rasa kami masih muda dan sedang jatuh cinta pada pendakian gunung. Ketika jatuh cinta, anda akan melakukan apa pun, itu bukan pengorbanan, itu semua normal. Kami tidak berpikir telah melakukan hal-hal yang luar biasa. Semua itu nampak biasa-biasa saja."

Bagaimanapun, pujian tetap datang dari mana-mana. Peter Hillary, putera Sir Edmund Hillary (pemuncak Everest pertama), membandingkan Loretan dengan pendaki yang menggunakan jasa guide dengan bayaran $70 ribu ke puncak Everest sebagai berikut:

"Loretan naik ke gedung melalui sisi luarnya, mengikuti alur beton dan kaca; mereka yang memakai guide melakukannya dengan lift." 

Steve House, seorang pendaki profesional lain pernah menulis dalam American Alpine Journal tentang terobosan baru terakhir dalam Alpinism (pendakian gunung di Alpen/gunung tinggi lainnya) dengan memberikan penghargaan, salah satunya kepada Loretan:

"Berdasarkan sejarah, barometer terbaik dari kegiatan pendakian gunung adalah Alpinism. Dan puncak dari model terakhir dalam Alpinism terjadi pada pertengahan sampai akhir 80-an ketika banyak puncak 8000 meter didaki dengan "single-push style", seringkali pada rute-rute baru. Semacam pendakian yang diistilahkan dengan "night-naked" oleh Voytek Kurtyka; dia, Jean Troillet, Pierre-Allain Steiner dan Erhard Loretan
adalah pusat yang mengadaptasikan gaya tanpa bivak ke puncak-puncak Himalaya."

Loretan masih aktif di Alpen dengan gaya Alpine Style sampai akhir hayatnya. Konsisten dan tidak berubah sama sekali. Ini masih dapat dilihat dalam sebuah wawancara yang dipandu teman sependakiannya, Voytek Kurtyka, di Mountain Magazine terbitan 121;
Erhard Loretan

Voytek Kurtyka (VK); "Apakah kamu berlatih untuk pendakian-pendakianmu?"
Erhard Loretan (EL); "Tidak, latihan terbaik ada disini," sambil memegang dahinya
VK; "Apa kamu merokok dan minum alkohol?"
EL; "Untuk yang pertama tidak, untuk yang kedua ya."
VK; "Apa kamu menggunakan obat-obatan tertentu?"
EL; "Hanya obat tidur. Saya tidak pernah menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan suplay darah."
VK; "Apa yang kamu inginkan dalam pendakian gunung-gunung tinggi?"
EL; "Yang sulit, tinggi dan secepat mungkin, Alpine Style, tentu saja."

Sebagai seorang pendaki, Loretan memiliki kekuatan fisik/mental yang luar biasa dan keterampilan realistis untuk menilai situasi kritis. Seringkali, dalam keadaan sulit atau merugikan, dia akan turun tepat pada waktunya, bahkan ketika telah melihat puncak. Dia menghargai kebebasan pribadinya, tidak gila publisitas atau berniat mencari ketenaran. Ia menikmati setiap pendakiannya dan tetap santai terhadap harapan sponsornya. Banyak orang menganggapnya kalem namun menyenangkan, rendah hati dan senang berbagi pengalaman. Loretan mungkin salah satu contoh pribadi dimana prestasi dan kesederhanaan menyatu di dalamnya.

Bagaimanapun, ia telah menginspirasi banyak orang, bahkan mereka yang berada di luar garis dunia pendakian gunung. Ia pernah mendapat penghargaan King Albert Medal of Merit untuk kontribusi berharganya untuk dunia pendakian gunung.  

Selamat Jalan, pendaki bersahaja.

www.zonapetualang.com
9ZMX7SPVSJAH
berbagai sumber,  kebanyakan dari: http://www.planetmountain.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar