Yang Unik di Repulse Bay, Hong Kong

Kehidupan orang-orang di China memang masih sarat dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang disebut Feng Shui.  Kebanyakan yang kita ketahui, Feng Shui lebih sering diterapkan dalam bidang konstruksi. Namun, sepertinya, aspek ini meliputi hampir semua sendi kehidupan bangsa China yang terkenal telah mengalami kemajuan budaya yang sangat pesat sejak dahulu kala. 

Menurut definisinya, "Feng shui (Mandarin: 風水) adalah ilmu topografi kuno Tiongkok yang mempercayai bagaimana manusia dan Surga (astronomi), dan Bumi (geografi), hidup dalam harmoni untuk membantu
memperbaiki hidup dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat. Qi baik disebut juga napas kosmik naga. jenis Qi ini dipercaya sebagai pembawa rejeki dan nasib baik. namun ada pula Qi buruk yang disebut Sha Qi pembawa nasib buruk. terdapat berbagai aliran feng Shui, di antaranya adalah Bintang terbang, waktu, dan topografi." (wikipedia.org).
The Old From the Moon (Happy God)

Bagaimanapun, Feng Shui adalah salah satu keunikan bangsa China yang masih bertahan hingga zaman sekarang. Salah satu contohnya adalah apa yang terdapat di Repulse Bay, salah satu tempat wisata pantai yang cukup terkenal di Hong Kong.
Dewi Kwan Im
Pantainya sendiri, bagi kita orang Indonesia, boleh dikatakan biasa-biasa saja. Meski ditambahkan ornamen berupa patung-patung bergaya khas China, namun tetap saja pantai-pantai di Bali, Lombok, Tanjung Bira, Bunaken atau Wakatobi masih jauh lebih indah dan eksotik.  Wisata yang ditawarkan disini tidak lebih dari wisata sensasi. Misalnya, bila berhasil melempar koin ke dalam mulut patung ikan., maka, katanya, rezeki kita akan bertambah. Buktinya, beberapa pengunjung yang tidak percaya pun tetap melemparkan koin, bukan karena percaya tapi lebih karena merasa penasaran.


Pengunjung Antri untuk menyentuh kepala Dewa Keturunan
Selain itu ada juga patung Dewa Keturunan, Dewa Jodoh, Dewa Rezeki, dan patung Dewi Kwan Im  yang berukuran raksasa. Di sisi lain terdapat jembatan umur panjang, dimana bila berhasil melewatinya 1 kali, konon bisa menambah umur 3 tahunt. Entahlah. Yang jelas, pemerintah setempat nampaknya sangat berhasil mengelola objek ini dengan optimal. Tidak seperti kebanyakan objek wisata di Indonesia yang pengelolaannya terkesan asal-asalan.

Yang unik disini bagi saya bukan pantainya melainikan justru sebuah apartment yang terletak di dekat objek wisata ini. Selain karena menyimpan catatan sejarah yang cukup panjang dan pernah disinggahi beberapa artis terkenal Hollywood, bangunan ini punya daya tarik dari sisi konstruksi. Ditengah bangunan yang kini difungsikan juga sebagai apartment mewah ini terdapat lubang besar berbentuk segi empat, mirip seperti apa yang terdapat di gedung HSBC. Hal ini diyakini sebagai upaya memberi jalan bagi naga-naga yang hidup di gunung untuk memiliki pandangan terbuka ke bawah dan dapat memperoleh akses untuk turun minum di laut.

"Ada 7 naga yang menjaga Hong Kong. Salah satunya hidup di gunung di belakang "The Repulse Bay". Ketika Hong Kong dilanda krisis ekonomi, seorang paranormal menganjurkan untuk membuat lubang di tengah bangunan tersebut. Kenyataannya setelah itu, ekonomi Hong Kong bisa pulih kembali," ujar seorang Guide lokal menjelaskan.

Entahlah. Yang jelas, lubang yang dibiarkan terbuka seperti ini dalam Feng Shui dimaksudkan untuk memberikan jalan bagi angin dan energi Qi. Qi sendiri, (Hanzi: 氣, Kanji: 気) atau lebih sering dieja sebagai chi atau ch'i (dalam Romanisasi gaya Wade-Giles) atau ki (dalam ejaan Romaji bahasa Jepang) adalah sebuah konsep dasar budaya Tionghoa. Qi dipercayai adalah bagian dari semua makhluk hidup sebagai semacam "kekuatan hidup" atau "kekuatan spiritual". Kata ini seringkali diterjemahkan sebagai "aliran energi" atau secara harafiah sebagai "udara" atau "napas"(wikipedia.org).

Menyaksikan Feng Shui pada sumbernya memang bermakna lebih. Saya jadi paham bahwa "hal lumrah" yang sehari-hari kita bisa saksikan di negeri sendiri ternyata bisa menjadi objek pariwisata yang menghasilkan devisa bagi negara asalnya. Tentu bila dikelola dengan baik seperti yang dilakukan pemerintah Hong Kong.

Apa khabar pariwisata Indonesia?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar