Toleransi Dan Pesan Spiritual Di Bukit Kasih (The Hill Of Love)



Tangga Menuju Puncak
Aroma belerang  yang terbawa angin dan Tugu “Pentagon” (lima sisi),  menjadi  sambutan khas  pengujung saat memasuki  areal Bukit Kasih. Berada di areal perbukitan ini menggiring perasaan ke nuansa yang berbeda  dengan perasaan saat  berada  pada tempat lain. Ketika pertama kali kesini  tahun 2007 lalu, perasaan yang sama juga amat terasa. Perasaan yang terbingkai  nuansa spiritual yang kental. Bedanya, di Bukit Kasih ini tak hanya nuansa spiritual yang muncul tapi juga pertanyaan yang menggelitik  tentang  pluralisme atau pluralitas dalam  beragama dan berbudaya yang sering diributkan akhir-akhir ini.

Bukit Kasih berada di ketinggian 1300 meter dari permukaan laut, dan secara administratif  terletak di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa Induk. Jaraknya sekitar 50 km sebelah Selatan Kota Manado dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam dengan menggunakan mobil. Bukit Kasih yang kerap menarik perhatian wisatawan domestik atau mancanegara ini terletak di sekitar kaki Gunung Soputan dan merupakan bukit belerang yang mempunyai panorama indah dengan kawah berasap dan sungai kecil berair panas yang mengandung belerang.
Tugu Bukit Kasih

Tugu Bukit kasih sendiri mempunyai tinggi  22 meter berada tepat ditengah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan. Di puncaknya terdapat Burung merpati dan bola dunia. Pada kelima sisi Tugu tersebut, terdapat simbol lima agama resmi di Indonesia dengan masing-masing  cuplikan isi kitab suci (ayat) dari agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha & Hindu. Tugu ini dibuat sebagai lambang kasih dan  kerukunan  dari umat beragama di wilayah ini. 

Ada 3 puncak  diareal ini yang menjadi objek wisata. Puncak yang disebelah kiri terdapat 3 patung orang Minaha, puncak yang berada ditengah yang menjadi puncak dari Bukit Kasih ini terdapat salib besar berwarna putih dengan ketinggian sekitar 53 meter dari atas permukaan tanah dan seolah-olah menandakan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Minahasa. Salib ini kelihatan dari Boulevard di kota Manado. Awalnya, di sekitar lokasi patung Salib ini terdapat dua buah makam yang terbuat dari batu. Makam itu merupakan makam leluhur  orang Minahasa yang bernama Toar dan Limimuut. Untuk mengenangnya dibuatlah patung di Tebing dan beberapa patung manusia (Toar dan Limimuut ) di beberapa tempat di jalur di bukit Kasih ini. Salib ini juga jelas terlihat dari atas pesawat bila kita take-off dari bandara Sam Ratulangi. Dipuncak bukit disebelah kanan terdapat 5 bangunan rumah ibadah dari 5 agama resmi di Indonesia yaitu Gereja Katolik, Vihara, Pura, Mesjid & Gereja Protestan yang dibangun berdekatan.
5 Rumah Ibadah di Bukit Kasih
Patung wajah Toar (Kanan) & Lumimuut (Kiri)

Di tebing terjal dibawah bangunan 5 rumah ibada terdapat patung wajah manusia pada dinding tebing (disebelah kiri ) perempuan yaitu Limimuut dan laki-laki  Yaitu Toar (disebelah kanan).

Namun tidak mudah  juga untuk mencapai ketiga tempat tersebut karena posisinya yang berada di ketinggian perbukitan.  Makanya, untuk memudahkan pencapaian tempat-tempat tersebut, dibangunlah jejeran tangga yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya dengan memanfaatkan punggungan bukit atau lereng di sekitarnya. Anak tangga yang dilengkapi dengan pagar pada sisi kiri-kanannya ini seolah-olah mampu melempar imajinasiku ke Great Wall yang terdapat di China.  Betul-betul terkesan seperti miniatur tembok China jadinya. Saya, sih, tidak sempat  menghitung, tapi konon jumlah anak tangganya sekitar 2345 (kalau sempat kesini, silahkan menghitungnya sendiri).


Ada 2 jalur (sebelah kiri dan kanan tugu).Kita akan menemukan undakan-undakan  tangga mengitari lereng bukit  menuju puncak. Kebanyakan pengunjung akan memilih memulai “pendakian” dari jejeran anak tangga yang mengarah ke sisi kiri perbukitan dimana salib raksasa berada. Hal yang secara naluriah sangat bisa dipahami karena sisi ini lebih landai dibandingkan sisi kanan perbukitan yang mengarah ke lima rumah ibadah. Dan seperti pada 2007 lalu, saya pun memilih rute “normal” ini.  



Seingat saya, terdapat tiga “resting point” pada rute ini;  dua berupa pondok kecil dengan atap yang berbentuk payung dan satu semacam rumah joglo yang dapat digunakan untuk pertemuan atau ibadah. Tempat ini juga dimanfaatkan oleh penjual souvenir dan jagung rebus menjajakan dagangannya. 

Setelah jembatan kecil terdapat percabangan,yang ke kanan menuju ke tempat bangunan 5 rumah ibadah dan yang lurus untuk melanjutkan perjalanan ke bukit  yang ada disebelah kiri dan  puncak Bukit Kasih dimana salib besar berada.

Setelah berjalan beberapa lama kita akan menemukan “resting point”  yang kondisinya sudah rusak dibagian atap dan berada sekitar  5 meter disebelah kiri sebelum percabangan. Jalur ke kiri menuju bukit yang ada disebelah kiri areal ini dan yang ke kanan menuju puncak Bukit Kasih.

Perjalanan ke bukit yang berada di sebelah kiri areal ini  agak sedikt terganggu dengan beberapa lubang pada jalanan yang disebabkan oleh asap panas yang keluar dari bawah. Sebenarnya ini menghawatirkan dan mengisyaratkan bahwa dibawah bukit ini ada energi panas yang seolah-olah bisa meledak  keluar. Selain itu, ulah pengunjung tak kalah memprihatinkan. Lubang-lubang gas di kiri-kanan yang dulunya mengeluarkan asap panas berbau belerang murni, kini beraroma lain karena telah bercampur dengan sampah yang kebanyakan berbahan plastik. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan.

Di atas bukit ini ada 3 patung  yang menggambarkan perawakan leluhur orang  Minahasa dan bongkahan-bongkahan batu yang bisa dipakai untuk duduk sambil menikmati pemandangan kearah pedesaan dibawah sana dengan pepohonannya. Ada pagar dari semen dengan pilar-pilarnya mengelilingi sisi bukit sebagai pengaman. Bila melihat kearah arah bawah kanan terlihat kawah kecil dengan kepulan asap panasnya dan jalur anak tangga yang indah berkelok-kelok menuju puncak Bukit Kasih.

Menuju puncak Bukit kasih kita tinggal mengikuti  jalur tangga yang berkelok-kelok dan menanjak mengikuti kontur ke puncak dimana salib besar berada. Tapi anak tangga semen tidak sampai di puncak jadi perjalanan kepuncak dilanjutkan dengan mengikuti jalur setapak dari tanah bersemak  hingga tiba di salib. Dari puncak sini pemandangannya sangat indah. Kita bisa melihat danau Tondano dibalik pepohonan, Tomohon dan gunung lainnya.

Turun dari puncak menuju bangunan 5 agama bisa ditempuh dengan 2 jalur dari sini. Bisa turun melewati jalur yang dipakai naik atau lewat jalur kompas yang mengikuti jalanan setapak bersemak yang tembus ke jembatan kayu menuju bagunan tempat ibadah di bukit sebelah.

Setelah melewati tanjakan terakhir selepas jembatan kayu,  saya pun akhirnya tiba di icon bukit kasih; lima rumah ibadah yang dibangun berdampingan. Suasana disini sejuk, adem dan asri. Pepohonan, rumput dan bunga-bunganya nampak terawat dengan baik. Secara berurutan terdapat Gereja Katolik, Vihara, Pura, Mesjid & Gereja Protestan disini. View yang ditawarkan juga  sangat indah.  Kita bisa melihat danau Tondano, Kawangkoan, Tompaso, Langowan dan hamparan perkebunan. Sesekali pandangan tersebut terhalang oleh kepulan asap dari kawah belerang  dibawahnya.

Bagi orang muslim, bisa sholat di mesjid kecil di bukit ini.Lelah habis naik turun bukit terasa segar dengan berwudhu dibelakang mesjid kecil dengan air kran dari sumber mata air yang sangat dingin. Sejuknya menghilangkan semua rasa capek. Anehnya air yang mengalir dibawah rumah ibadah ini panasnya bukan main, berasap. Shalat di mesjid kecil ini terasa tenang dan damai walaupun dengan mukena yang tidak tahu kapan terakhir dicuci. Disini ada beberapa mukena, sarung , sejadah dan surat Yasin yang disediakan untuk pengunjung. Kita juga bisa istirahat sepuasnya disini.

Di beberapa rumah ibadah lainnya juga terdapat beberapa orang yang lagi berdoa dan berfoto. Kembali timbul lagi perasaan yang selalu menggelitik saya tentang  pluralisme yang sering diributkan di negeri ini. Bagi saya yang awam hanya berpikir sederhana tentang  ini; bahwa pluralisme adalah faham tentang keanekaragaman budaya atau agama, yang  berari kita harus sadar bahwa di negara ini ada banyak agama dan budaya, jadi kita harus menghargai agama lain. Mengakui  perbedaan dan identitas agama masing-masing memang bukan berarti memandang bahwa semua  agama itu sama dan hanya berbeda  jalan menuju satu tujuan. Di sisi lain, hal tersebut juga bukan alasan yang dapat digunakan untuk mendiskreditkan agama lain.  Semua orang bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai meski dengan latar belakang yang berbeda. Mengapa tidak? Al-Qur’an telah mengisyaratkan hal tersebut. "Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku." (QS. al-Kafirun [109] : 6). 

Kawah yang tak henti-hentinya menyemburkan uap belerang
Turun dari tempat ini menuju Tugu dibawah melewati  jalur sebelah kiri (sebelah kanan kalau dari Tugu) merupakan bonus besar. Tidak ada lagi tanjakan. Perjalanan pun bisa dilakukan dengan lebih cepat. Di sepanjang sisi kanan jalan kita disuguhi pemandangan lembah belerang  yang berasap dan patung Toar, Limimuut di tebing  yang  seakan mengawasi  pengunjung dan keindahan Tugu di bawahnya. Pada jarak tertentu disepanjang  tangga  di bagian kiri ada patung-patung kecil  yang merupakan rangkaian cerita bagi umat Kristen. Disini hanya terdapat satu resting point. Ini mengesankan bahwa anak-anak tangga yang dibangun mengarahkan pengunjung memulai perjalanannya dari sisi kiri, seperti yang selama ini banyak dipilih.
Satu-satunya "Resting Point" di rute turun nampak di latar belakang
Tiba dibawah ada warung disebelah kiri yang menjual jagung rebus, jagung bakar, pisang goreng, kacang Kawangkoan yg isinya merah dan terkenal enak & saguer (arak manis) .Disini juga dijual souvenir berupa baju kaos Bukit Kasih, gelang-gelang, kalung, cincin dan topi khas Bukit Kasih. Di sebelah jalan depan warung mengalir sungai kecil dengan air panas yang mengandung belerang. Disini kita bisa mencari lokasi air yang agak hangat untuk merendam kaki yang letih. Sumber  air panas ini biasa dipakai penduduk untuk merebus jagung, telur dan kacang tanah. 

Sebelum pulang, saya menyempatkan diri berendam di kolam renang air panas yang terdapat disini. Hanya dengan merogoh kocek Rp. 5000,- saja, kita sudah bisa berendam sepuasnya dalam pijatan belerang yang menyehatkan. 

Berdirinya Bukit Kasih berawal dari inisiasi para pemuka agama di Sulawesi Utara dan Aj Sondakh yang kemudian secara resmi dimulai pembangunannya pada tahun 1999 dan diresmikan oleh Gubernur  Aj Sondakh pada tahun 2002. Peresmiannya sendiri dihadiri oleh Mendagri Harry Sabarno (pada waktu itu), juga para pemuka agama serta  dimeriahkan dengan berbagai pagelaran budaya dan agama. Seperti Qasidah, Barongsai, Maengket dan sebagainya. AJ. Sondakh sendiri dikuburkan di areal ini.

Nampak makam AJ. Sondakh di sudut kanan atas gambar
Obyek wisata Bukit Kasih yang melambangkan kerukunan agama di Sulawesi Utara ini, sayangnya  tidak lagi terpelihara dengan baik melihat beberapa fasilitas   yang telah mengalami kerusakan. Sebuah hal yang sangat disayangkan mengingat ide dan pesan brillian yang dikandungnya. Bukit Kasih memang sebuah contoh yang patut dipertahankan bagi sebuah negara majemuk seperti Indonesia ini.

www.zonapetualang.com

5 komentar:

  1. owh.. nanti mau juga melihat langsung.. semoga ada kesempatan, dan bisa ditemani oleh yang ada di dalam gambar.. hahaha..

    BalasHapus
  2. siap mengantar Kakak.InsyaAllah...

    BalasHapus
  3. pasang link saya balik donk ! http://cuma-ingintahu.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. pasangnya di friend blog ya?

    BalasHapus
  5. Wah bagus banget bukit kasih
    semoga pariwisata Indonesia makin maju

    BalasHapus