Orang Indonesia Bahu-Membahu di Seven Summits


Tahun 2011 mungkin akan menjadi tonggak kebangkitan kembali dunia pendakian gunung di Indonesia. Betapa tidak, setelah – boleh dikatakan – “decline” selama satu dekade, kini geliat yang signifikan jelas terlihat. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi indikator adalah sebuah ajang bergengsi di dunia petualangan internasional: Seven Summits!

Sejak diproklamirkan oleh Dick Bass – seorang pengusaha asal AS – 7 summits memang langsung menyedot perhatian para pendaki internasional. Menurut daftarnya, tujuh puncak tertinggi di tujuh benua itu terdiri dari Mc Kinley/Denali (6194 m) di Amerika Utara, Aconcagua (6962 m) di Amerika Selatan, Elbruss (5642 m) di Eropa, Kilimanjaro (5895 m) di Afrika, Vinson Massif (4897 m) di Antartika, Everest (8848 m) di Asia dan Mount Kosciuszko (2,228 m) di Australia. Belakangan daftar tersebut menjadi perbincangan hangat setelah Reinhold Messner mengeluarkan daftar baru dan mengganti Kosciuszko dengan Carstensz Pyramid (4484 m) di Papua, Indonesia sebagai yang tertinggi di Australasia. Ajang tersebut pun terbelah menjadi dua sampai sekarang (lihat list 7summits disini).
Indonesia sendiri mulai masuk ke ajang bergengsi tersebut sekitar dua dekade lalu. Mapala UI mencanngkan program 7 Summits dan menjadi pionir dalam hal ini. Sayangnya upaya ini terhenti akibat gugurnya dua orang pendaki handal yang pernah dimiliki Indonesia, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, di Aconcagua pada tahun 1992. Praktis setelah musibah itu, 7 summits Indonesia seolah-olah menghilang. Kebanyakan pendaki Indonesia saat itu lebih terfokus pada pencapaian puncak tertinggi dunia, Mt. Everest.  Upaya yang memang belakangan membuahkan hasil dengan pencapaian Clara Sumarwati pada 1996 atau Asmujiono dan Misirin pada 1997 (lihat selengkapnya disini).
Norman Edwin, Pionir 7 Summits Indonesia

Tak dapat dipungkiri, krisis ekonomi dan politik pada 1998 menjadi salah satu penghalang utama bagi progress dunia pendakian gunung Indonesia untuk menorehkan prestasi berskala internasional. Biaya-biaya yang terkonversi akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat sponsor sulit didapatkan. Di sisi lain, transisi pemerintahan yang terjadi telah membuat dukungan terhadap pendakian gunung menjadi tidak sebesar sebelum krisis. Pendakian gunung nasional pun terpaksa harus realistis melakukan kegiatannya.

Meski demikian, semangat mengharumkan nama bangsa di bidang ini tidak pernah mati dan nampaknya diregenerasikan dengan kontinyu. Tombol “play” kemudian ditekan ulang pada akhir dekade ini. Setidaknya terdapat lima tim yang sedang melakukannya, yaitu: Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Mapala UI (Jakarta), Mahitala Unpar (Bandung), Wanadri (Bandung) dan Wanala Unair (Surabaya).

Sebenarnya, Indonesia telah berhasil menempatkan  warga negaranya di semua puncak 7 summits setelah Tim Mahitala Unpar berhasil mencapai puncak Vinson Massif pada 13 Desember 2010. Namun bagaimanapun, seperti kesepakatan internasional, yang dapat diakui sebagai 7 summitter adalah personal. Negara akan otomatis ikut terdaftar bila seorang warganya telah menyelesaikan seluruh puncak yang ada. Dan untuk kawasan ASEAN, Singapura adalah Negara pertama yang berhasil menyelesaikan 7 Summits setelah Swee-Chiow Khoo sukses mendaki puncak terakhirnya, Vinson Massif pada tanggal 22 Nopember 2000.

Sampai sekarang (14 Juni 2011), yang paling berpeluang untuk menjadi 7 summiter pertama dari Indonesia adalah Sofyan Arief Fesa (28 S-2), Frans Tumakaka (24), Janatan Ginting (22), Broery Andrew Sihombing (21) dan Budi Hartono Purnomo (51 tahun, alumnus Teknik Sipil Unpar) yang tergabung dalam "Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar". Enam puncak telah mereka selesaikan masing-masing Carstensz Pyramid di Indonesia (Australasia) pada 23 dan 26 Februari 2009, Kilimanjaro  via Machame pada 10 Agustus 2010 di Kenya (Afrika), Elbrus via Rute Utara di Rusia (Eropa) pada 24 Agustus 2010. Vinson di Antartika pada 13 Desember 2010, Aconcagua  di Argentina (Amerika Selatan) pada 9 dan 30 Januari 2011 dan Everest (8.848 mdpl) di Nepal (Asia) pada  20 Mei 2011 (sumber: http://www.indonesia7summits.com/)Kecuali Budi Hartono Purnomo yang tak sempat mencapai Everest dan Vinson, keempat anggota tim lain secara bersama-sama hanya menyisakan satu puncak lagi. Tanggal 18 Juni mendatang, mereka rencananya akan bertolak ke AS untuk mencoba mendaki Denali, puncak terakhir dari program ini.

Dibelakangnya terdapat Fajri Al-Luthfi, Iwan Irawan, Martin Rimbawan dan Nurhuda, empat dari enam anggota tim utama Seven Summits Expedition Wanadri "Indonesia di Puncak Tujuh Benua" (dua anggta tim lain adalah Ardeshir Yafftebi/Ketua Tim dan Gina Afriani).  Sampai saat ini mereka menyisakan dua puncak yaitu, Vinson Massif yang rencananya akan didaki pada Desember 2011 dan Mt. Everest pada 2012. Sebelumnya mereka telah sukses di  Carstensz Pyramid pada 18 April 2010 di Indonesia (Australasia), Kilimanjaro pada 1 Agustus 2010 di Kenya (Afrika), Elbrus Rusia (Eropa) pada 19 Agustus 2010, Aconcagua di Argentina (Amerika Selatan) pada 28 Desember 2010 dan Denali/McKinley AS pada 15 Mei 2011 (sumber: http://7puncakdunia.net/).

Dua lembaga lainnya yaitu Mapala UI dan FMI masing-masing diwakili 1 orang pendaki. Dodi  Johanjaya (Mapala UI)  telah mengoleksi 4 puncak, masing-masing Carstensz Pyramid yang didakinya pada tahun 1995, Kilimanjaro pada 2007, Elbrus pada 24 September 2009 dan Aconcagua pada 19 Februari 2011. Rencana pendakian kreator acara Jejak Petualang ke tiga puncak tersisa ini masing-masing adalah Denali pada pertengahan 2011, Vinson Massif pada akhir 2011 dan Mt. Everest pada Maret 2012 (sumber: http://www.anakui.com/2010/11/22/mapala-ui-raih-puncak-elbrus/). 

Sementara itu, petualang asal Manado, Franky Kowaas yang mewakili FMI, sejauh ini telah menyelesaikan tiga puncak, yaitu Carstenzs Pyramid yang sudah sering didakinya sejak tahun 2000, Kilimanjaro  pada 11 April 2008 dan Elbrus tepat di hari kemerdekaan Indonesia tahun 2009. Namun berbeda dengan yang lain, Mountain Guide yang juga pionir B.A.S.E Jumping Indonesia ini justru mencanangkan Adventure Grand Slam (Seven Summits plus Kutub Utara dan Selatan)  dalam rencanya (sumber: http://contents.highcamp.info/3rdparty/squirrelmail/src/index.php?option=com_content&task=view&id=275&Itemid=1).

Wanala Unair sendiri nampaknya lebih mengedepankan pencapaian organisasi dibanding individu untuk 7 summits. Ini nampak terlihat pada formasi anngota tim yang berbeda untuk tiap puncak yang dicapai. Puncak yang tersisa rencanya akan mereka daki pada 2013 (Aconcagua), 2016 Denali), 2019 (Vinson Massif) dan 2022 (Everest) (sumber: http://antarajatim.com/lihat/berita/62682/unair-kumandangkan-indonesia-raya-di-puncak-elbrus). Beberapa Mapala dan kelompok penggiat alam terbuka lainnya juga telah mulai mencanangkan 7 Summits dalam program organisasi mereka. Sebuah gairah yang sangat menggembirakan tentunya.

Berikut ini dapat dilihat daftar sebagian orang Indonesia yang tengah berjuang untuk menjadi 7 Summiter dan  telah menyelesaikan sedikitnya 3 puncak dari 7 puncak dalam ajang ini.


Catatan Khusus:
1. Dody J (Mapala UI) mendaki solo di Elbrus
2. Tim Mahitala Unpar membuat rute baru di Elbrus
(dikumpulkan dari berbagai sumber)

Siapa pun yang menjadi 7 summiter pertama dari Indonesia nampaknya tidak menjadi soal bagi perkembangan dunia pendakian gunung nasional. Yang jelas, Indonesia sangat berpeluang mensejajarkan diri dengan negara-negara Asia lain seperti Korea, China bahkan Jepang dan bergabung bersama 275 pendaki internasional dalam dua track 7 Summits.  AS menjadi penyumbang terbanyak dengan menempatkan 86 warganya di list. Untuk Negara Asia, Jepang memimpin dengan 13 pendaki, disusul Korea dan China masing-masing dengan 4 pendaki, kemudian Kuwait, Nepal, Taiwan, India dan Singapura, yang kesmuanya memiliki 1 pendaki dalam list (sumber: http://7summits.com/).

Bila ekspedisi-ekspedisi yang sementara dilakukan putra-puteri terbaik bangsa ini berhasil seluruhnya, maka Indonesia sedikitnya akan menempatkan 10 orang pendaki dalam list 7 summiter. Dan itu merupakan prestasi yang sangat besar bagi bangsa ini. Kita juga masih memiliki peluang sebagai 7 summiter pertama ASEAN untuk katedori puteri pada Gina Afriani. Makanya, dukungan penuh dari pemerintah RI tentu sangat berarti untuk merealisasikan kemungkinan tersebut – terutama dari segi birokrasi, fasilitas dan tentunya dana. Mari, dukung penuh dunia pendakian gunung Indonesia! 

Selamat berjuang, kawan! Sukses selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. 

www.zonapetualang.com

Tribute To:
1. Pionir Seven Summits Indonesia; Norman Edwin dan Didiek Syamsu
2. Para Pendaki Seven Summits Indonesia
3. Patrick Allan Morrow (Pat Morrow)

www.zonapetualang.com

5 komentar:

  1. kapan ya bisa ikut.. pengen rasanya mendaki 7 puncak tertinggi di dunia... moga temen2 tetap semangat dlm mendaki dan sukses.. aminn...

    BalasHapus
  2. Semoga keinginannya bisa terealisasi, gan. Amin

    BalasHapus
  3. niat u. ksana luar biasa..tp kndalax mnta ampun...sukses para pendaki indonesia

    BalasHapus