Berdansa di Tebing bersama Catherine Destivelle

Add caption

Ketika pertama melihat foto Catherine Destivelle sedang memanjat sebuah overhang saat masih kuliah dulu, yang terbersit di benak saya adalah sebuah keganjilan. Betapa tidak, seorang wanita muda yang berwajah manis dan lembut sedang menari-nari di ketinggian tebing cadas yang tentu keras, tanpa seutas tali pengaman sedikitpun! Ketika itu, saya sudah sering melihat pemanjat tebing wanita beraksi dengan beragam resiko, tapi tidak yang seperti ini.



Memanjat sejak umur 14 tahun, wanita Perancis kelahiran Oran, Aljazair 24 Juli 1960, ini mulai memperlihatkan kepiawaiannya justru pada usia 25 tahun - ketika ia memenangkan beberapa kejuaraan panjat dinding seperti pada Arco di Trento dan Bardonecchia Climbing Championships. Padahal ketika itu Catherine tengah berkarir sebagai seorang  physiotherapist sejak 1981 setelah menamatkan studi di Ecole de Kinésithérapie de Paris.  

Pencapaiannya di tebing alam malah lebih menakjubkan. Ia melakukan beberapa pemanjatan paling berani di tebing-tebing dengan menerapkan nilai-nilai tradisional pemanjatan gaya Alpine, rute baru atau rute yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sebagian malah dipanjatinya tanpa seutas tali pengaman sedikitpun!

Pemanjatan tanpa tali yang dikenal dengan istilah pemanjatan solo itu dilakukan Catherine di Bonatti Pillar di the Aiguille du Dru pada 1990, rute baru ke puncak Aiguille du Dru yang kemudian dinamakan “The Destivelle Route" (dinding batu pertama yang dinamakan dengan nama seorang perempuan) pada 1991, North Face (dinding utara) Eiger pada 1992, Walker Spur di the Grandes Jorasses (1993), Bonatti Route di North Face of the Matterhorn (1994) dan rute direct di north face of the Cima Grande di Lavaredo (1999).

Diantara sekian pemanjatan solonya, pemanjatan dinding utara Eiger (3970 m) adalah yang paling banyak mendapatkan perhatian publik. Betapa tidak, tebing pada gunung yang dikenal memiliki tingkat bahaya yang sangat komleks dan merupakan poin penting bagi dunia panjat tebing internasional itu diselesaikannya hanya dalam waktu 15 jam saja. Pencapaian Catherine tersebut sekonyong-konyong menepis pertanyaan tak terjawab tentang inferioritas wanita dalam dunia panjat tebing.

Tidak hanya itu, Catherine juga sempat merasakan petualangan ke kawasan raksasa Himalaya. Pada 1994, bersama Érik Decamp - belakangan menjadi suaminya – ia menjajal dinding barat laut Shishapangma (8013 m) di Nepal. Dua tahun kemudian pasangan ini berhasil mencapai puncak  perawan “Peak 4111” di kawasan  Ellsworth Mountains, Antartika. Dalam perjalanan turun dari puncak, Destivelle terjatuh sejauh 20 meter dan menyebabkan kakinya patah.

"Ratu Sejagad Panjat Tebing" ini juga beberapa kali membintangi film dokumenter,  termasuk garapan sutradara Perancis, Rémy Tezier's,  Beyond the Summits (Au-delà des cimes), yang memenangkan penghargaan untuk “Best feature-length Mountain Film” pada tahun 2009 di Banff Mountain Film Festival. Salah satu filmnya dari Youtube yang merupakan pemanjatan solonya di Mali dapat anda saksikan dibawah ini atau mengunduhnya disini.

Bagaimanapun, wanita bernama lengkap Catherine Monique Suzanne Destivelle ini telah membuktikan bahwa self-belief dan determinasi telah mengoptimalkan potensi pribadinya sehingga bisa menyentuh batas-batas kemampuan tidak saja bagi dirinya, melainkan juga bagi manusia secara keseluruhan. Selain berprofesi sebagai penulis, Catherine juga menjadi motivator ulung. Presentasinya penuh dengan wawasan yang sangat berharga tentang apa yang memungkinkan dia untuk mencapai tujuan sendiri dan kemudian bisa membawanya sampai ke batas yang sebelumnya dianggap orang lain sebagai sebuah hal yang mustahil.

Dan meskipun merasa janggal melihat foto wanita cantik sedang “berdansa” di tebing batu, saya tidak pernah melihat apa yang telah dicapainya dalam dunia panjat tebing sebagai sesuatu yang melanggar kodratnya sebagai seorang wanita.Catherine sesungguhnya hanya melengkapi kodrat sebuah tebing; "untuk dipanjati".

2 komentar:

  1. mantap tp pemanjat tebing wanita dr Indonesia juga engga kalah hebat kok, bahkan pernah menang sebagai pemanjat tercepat di dunia tahun 2005

    BalasHapus
  2. wah keren nih atlit wanita juga gak kalah sama pria yaa prestasinya

    BalasHapus